capture

Sang Pengeja; Terbata Memaknai Kata

Oleh Nastri Maulida

Para pecinta teater kembali disuguhi parade pementasan monolog yang tergelar dalam acara Solo Monolog #3.

Acara yang diselenggarakan oleh kelompok seniman Solo ini berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat 28-30 Desember 2016 dan hari Rabu 28 Desember menjadi malam pertama dimulainya pementasan.

Kali ini menampilkan seniman asal Jakarta, Syakieb Sunkar dengan karya Kucing Hitam; Yogyakarta, dengan karya Kursi Tua oleh Eko Sutrisno; dan Saiful Ahsani dari Teater Sirat menyajikan karya Sang Pengeja.

Pukul 19:27, serambi area Teater Arena telah dipadati tetamu, berbondong dan berkelompok.

Beberapa orang tengah asik dengan obrolan mereka sambil berdiri, duduk, bahkan sambil jongkok.

Di samping itu, banyak pula di antara kerumunan tengah asyik menikmati aroma tembakau yang terbakar.

Di sudut lain, tempat tetamu menunggu, beberapa orang masih setia dengan wedangan yang mereka pesan sebagai teman ngobrol.

Tepat pukul 19:50, pintu area pertunjukan dibuka, tetamu berjejalan mengntre menunjukkan tiket yang sudah mereka beli kepada panitia.

Satu persatu tiket disobek dan tetamu memasuki gedung pertunjukan.

Seperti biasa, tempat duduk area tengah menjadi pilihan utama untuk mendapatkan view terbaik menikmati pertunjukan.

Namun tak lama, sayap kanan dan kiri area pertunjukan pun terisi penuh.

Pementasan diawali dengan penampilan  dari Jakarta dengan karya Kucing Hitam, berkisah tentang seorang laki-laki pecinta kucing yang terpenjara gara-gara kucingnya.

Pementasan kedua hadir dari Yogyakarta oleh Eko Sutrisno dengan judul pementasan Kursi Tua.

Dan sebagai penutup pementasan hari pertama, Saiful Ahsani dari Teater Sirat IAIN Surakarta menyajikan sebuah pementasan dengan naskah karya M Milkhan berjudul Sang Pengeja.

Karya yang disutradarai oleh Popo tersebut, ditampilkan secara apik dalam seting meja dan kusi di tengah panggung; dan rangkaian abjad bergelantung menghiasi langit-langit.

Di samping itu, sajian juga dibangun dengan alunan biola fals, mengiringi gerak tokoh sang pengeja.

Lembaran kertas terpatri huruf-huruf, pelan-pelan ia eja.

Perlahan tapi pasti setiap gerakan dan ucapan tokoh sang pengeja disaksikan dengan tegun oleh penonton.

Sang Pengeja, berkisah tentang manusia, yang ada karena eksistensi seorang ayah dan seorang ibu; dilahirkan dan dipaksa mengeja huruf demi huruf agar terangkai menjadi kata yang bermakna.

Saiful Ahsani kembali memamerkan kepiawaiannya dalam memerankan tokoh sang pengeja dalam naskah Sang Pengeja dengan olah tubuh yang tegas, ekspresi mime yang menyeruak, ditambah dengan intonasi vokal yang begitu dinamis.

Dengan kekawakannya di dunia seni peran, ia berhasil menyihir penonton melalui berbagai teknik interaksi yang mengajak mereka hanyut dalam ejaan kata demi kata,

Pada akhirnya, sajian Sang Pengeja sampai juga di penghujung akhir pementasan.

Suasana panggung menjadi terang, lampu-lampu menyala; menyoroti dan mengiringi langkah tetamu yang perlahan keluar dari area pementasan.

~Taman Budaya Jawa Tengah, Rabu 28 Desember 2016

Advertisements