selamet

Selamet

Oleh Saiful Ahsani

Suasana pasar tradisional yang ramai dengan para penjual dan pembeli tiba-tiba pecah.

Seorang wanita paruh baya, dengan tubuh sintal, rambut bercat merah dan hidung mancung suntik silikon berteriak minta tolong, “Tolong… copet… copet…!” nyaring, dan memekakkan telingan penjual bawang yang sedang melayaninya.

Seorang lelaki tegap berambut lurus dengan potongan ala mandarin berlari secepat mustang, menyibak keramaian pasar pagi itu.

Di belakang, puluhan orang mengejar gesit-lincah langkahnya.

Ya, mereka memang sudah gerah dengan ulah copet satu ini, selalu saja beroperasi di pasar dan sewaktu hendak ditangkap, ia sangat licin, selicin raja lele pamer kumis.

Pencopet itu lari keluar dari pasar, kemudian masuk ke gang tikus; seakan hafal benar dengan portal pelarian, atau mungkin memang sudah ia rencanakan sebelumnya, atau bahkan, telah ada konspirasi pembuat rute untuknya melarikan diri.

Lagi-lagi, ia selamat dari kejaran massa.

Selamet namanya.

Selamet memang selalu saja selamat.

Nama yang diberikan, bertujuan supaya ia selalu saja selamat.

Terkabul sudah do’a kedua orang tuanya.

“Selamet” adalah seorang pencopet yang meresahkan para pembeli dan pedagang di pasar.

Pernah suatu ketika, seorang nenek tua yang bekerja sebagai kuli panggul pasar jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit karena syok setelah uangnya dicopet oleh Selamet.

Padahal, uang terssebut dipersiapkan untuk membayar biaya cucunya yang akan pergi tamasya ke Pulau Dewata.

Tapi, Selamet tidak menyesal.

Bahkan ia sangat bangga dengan aksinya yang terekspose media cetak di rubrik topik utama.

Berita aksi ekstrem Selamet tersebar di seantero kampungnya, ia menjadi topik perbincangan ibu-ibu penebar gosip.

Rumor dan kehebatan Selamet menjadi obrolan utama sampai hampir sebulan penuh.

Bak artis dadakan, Selamet dipuja, disanjung dan dicaci banyak orang.

Tapi, lebih banyak warga yang memujanya oleh karena Selamet adalah seorang pencopet yang ramah, santun, sekaligus pintar menyembunyikan masalah.

Bagaimana tidak ramah? setiap ia bertemu anak kecil—entah itu anak tetangganya atau anak kecil yang tidak sengaja ditemuinya di jalan—, ia selalu berbagi rejeki dari hasil bisnisnya.

Selamet adalah seorang yang berpendidikan.

Orang tuanya menyekolahkan Selamet sampai ia mendapat gelar Master of Economy.

Ia juga pernah bekerja di instansi pemerintah yang bergerak di bidang perpajakan.

Tapi, ia mengundurkan diri.

Ia sadar, bahwa sewaktu ia bekerja di instansi tersebut, ia lebih sering berbohong untuk kepentingan atasan, sebuah golongan, atau siapapun dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan rakyat walau pada kenyataanya bertolak-belakang dari realita kerakyatan.

Mulai saat itu, kemudian ia mengundurkan diri dan memproklamirkan dirinya sebagai copet.

Ya, seorang pencopet pasar.

Sebelum menjadi seorang copet pasar, ia lebih tekenal sebagai seorang copet eksklusif.

Ia sering mencopet di acara -acara besar negara; even final sepak bola dengan negara sebagai tuan rumah, bulu tangkis di Singapura, upacara kemerdekaan di istana negara, atau bahkan saat pernikahan putra presiden.

Tidak heran, jika ribuan pulau dan keindahannya yang mendunia telah ia jelajahi.

Para anggota DPR tak luput dari tangan maya Selamet.

Selamet berfikir, bagiku ini halal, mengapa mereka tidur saat rapat akbar, Baku-hantam oleh karena perbedaan pendapat, Bukankah itu tindakan kriminal?

Tuhan mengutusku sebagai warning dan pemberi sanksi.

Saat itulah Selamet menyusup dan mencopet uang saku para anggota dewan.

Tapi, mengapa dalam hal ini Selamet menyesal, menangis tersedu-sedu, bahkan sampai tidak doyan makan selama satu minggu?

“Bagaimana tidak, sewaktu aku mengambil uang dari anggota dewan, sama halnya aku mengambil uang dari ratusan, atau bahkan ribuan rakyat,” ungkapnya melawan perdebatan batin dirinya.

Ia sadar, ia benar-benar menyesal telah mengambil uang milik ribuan rakyat.

Karena itulah, mari kita sebut Selamet sebagai seorang copet yang ramah, santun, dan berbudi luhur.

Mulai saat itu, ia alih area menjadi seorang copet pasar.

Ia lebih merasa nyaman saat hanya mencopet uang milik seseorang.

Ya… Selamet sekarang hanyalah seorang copet pasar, hanya seorang copet pasar.

Seperti biasa, pagi hari, dengan membawa nama “Selamet” yang menjadi sugesti dalam hidupnya, ia berangkat ke pasar untuk menjalankan profesinya.

Pasar sudah dianggapnya sebagai kantor tempat ia bekerja.

Tempat ia bisa menyapa teman-temannya, mendapatkan uang dan tempat ia menggantungkan hidup sebagai pencopet.

Pagi itu, tepat seperti apa yang dibayangkan Selamet.

Kliwon, jatuh tempo pasaran, hari di mana suasana pasar ramai oleh pengunjung.

Dalam benak Selamet, ia harus bisa mendapatkan uang yang lebih daripada hari-hari biasanya.

Di ujung lorong pasar, Selamet melihat seorang ibu yang berdandan cukup perlente, menjinjing tas merk Hugos KW 2.

Selamet menunggu kelengahan ibu itu.

Tepat sekali, ibu itu menaruh tasnya di tumpukan jahe.

Sedang ia baru menawar cabe rawit di kedai berikutnya.

Tanpa pikir panjang, Langsung saja Selamet menyambar tas itu dan bak ikan lele di air keruh ia langsung melarikan diri.

Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan nyaring memekakkan telinga, “Tolong… copet… jambret… copet… itu… itu… copet… tolong…!”

Puluhan orang langsung mengejar Selamet.

Ia keluar dari pasar dan masuk ke gang tikus tempat ia biasa melarikan diri.

Tapi malang, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Di depan gang, aparat sudah menghadangnya.

Sepertinya, orang-orang sudah hafal jalur Selamet melarikan diri.

Karenanya, orang-orang sudah menyiapkan aparat di depan gang.

Atau mungkin, Selamet dijebak oleh teman-temanya sendiri yang iri karena ia selalu selamat dari kejaran orang-orang.

Selamet menyerah, ia tertangkap, diproses tahap awal dan dibui.

Tapi, Selamet masih selamat dari hajaran masa yang tidak berprikemanusiaan.

Selang tiga hari dari peristiwa itu, Selamet dihadapkan di meja hijau.

Ia dituntut hukuman gantung atau tembak mati, karena sudah terlalu sering membuat resah para pedagang dan pembeli di pasar.

Gila, hanya karena mencopet uang puluhan ribu, Selamet dituntut dengan sangat tidak logis.

“Pengadilan macam apa ini?” teriak Selamet lantang sebagai orang yang berpendidikan.

Tapi jaksa penuntut tidak mau tahu, karena jaksa penuntut sudah tahu track record seorang Selamet sebelum ia menjadi pencopet pasar.

Dan Ia tetap menuntut Selamet dengan hukuman mati. Karena sudah terkuak semua kebusukannya.

Selamet tak mau hanya bertopang dagu menyerah pada nasib.

Ia juga punya hak mencari sekutu; kuasa hukum orang pintar bilang.

Perdebatan di meja hijau sangat alot, harus melintasi kumpulan awan hitam dan harmoni petir yang menyambar, atau mungkin harus mendaki gunung yang terjal dan melintasi lembah yang curam.

Setelah mengalami perdebatan yang sangat rumit; pembelaan, alibi, dan segala macam cara, ternyata ujung-ujungnya hanyalah secarik kertas amplop terisi foto-foto tokoh pahlawan.

Pada siapa amplop itu diajukan? Pengurus gedung? Even organizer? Cleaning server? Atau tukang kebun?

Bukan, amplop itu hanya untuk yang mulia paduka hakim.

Selamet cukup beruntung, hanya divonis 8 tahun penjara.

Sebagai orang yang berpendidikan, itu dirasa masih tidak logis menurutnya.

Tapi Selamet menerimanya dan tidak menginginkan naik banding, musnah sudah tabungannya hasil mencopet selama ini hanya untuk pembayaran administrasi hukum.

Biaya untuk naik banding, tidak bisa ia bayar dengan hanya bekerja sebagai seorang copet pasar saat ini.

Di dalam bui, Selamet masih bisa tertawa dan berkata, “Ayah, terima kasih atas nama “Selamet” yang kau berikan padaku, aku masih bisa selamat dari amukan masa, hukuman mati dan hiruk-pikuk kemunafikan dunia”.

Selamat, Selamet masih selamat.

~Palur, 2 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s