untitled

Di Bawah Pohon Pala

Oleh Priyadi

Pada bintang kugantungkan sebuah nama. Lalu jatuh karena benturan meteroid hingga terpental dan ditangkap rembulan. Kini, ia duduk pada sabitnya dan tersenyum lebar ketika malam naik tanggal sepuluh. Nama itu membentuk tubuh dengan artefak-artefaknya. Dalam tiap artefak, ditentukan sebuah konsensus irasional. Artefak kepala yang penjol dianggap kelainan, artefak payudara yang montok dianggap seksi, artefak kaki tak utuh dianggap tak sempurna, artefak perut yang rata dianggap titik puncak hasrat. Kebenaran lazim yang benarbenar mendustai kuasa dan keadilan Tuhan yang maha benar, sang penguasa jagad mayapada.

Pada ujung sebuah lingkaran tak pernah kutemui titik temu. Selalu saja melingkar monoton dikendalikan para penjilat dan pelacur politikus. Dan nama, yang duduk pada sabit rembulan hampir selalu terperangkap oleh permainan licin-licik para penguasa.

Sesekali nama itu turun dari rembulan, berjalan, berlari dan bermain di bawah rerimbunan barisan pohon pala, menginjakkan telapak kaki mulusnya yang tanpa alas di atas dedaunan yang  rapuh menguning dan kecoklatan. Setelah lelah, duduk di bawah pohon pala untuk istirahat dan mengusap keringat. Di situlah, aku bertemu tatapan mata hitam legam tajam, dilanjut senyum tipis nan terkembang.

Kami berbincang, saling tukar nama dan alamat tempat tinggal. Seringkali kami berjanji untuk bertemu di sudut Benteng Santa Lucia ketika senja menyongsong atau siang meradang, menikmati Kie Matubu[1] yang lugu sambil membayangkan barisan perahu Kora Kora[2] melepas tambatan dari lereng, kemudian, menyerang puluhan kapal Belanda hingga memaksa armada laut tersebut pulang ke Namlea. Kami bercanda sambil menikmati angin yang menghantam wajah kami dan melirik Maitara yang melambai dengan rambut pohon cengkih dan kelapa.

***

Di sini, di sisi Benteng Rosario del Cano terhampar barisan pohon ketapang tua yang meneduh bulir-bulir pasir pantai Kastella. Pada akar-akar kekar dan beberapa gazebo, ia turun dari sabitnya, duduk pada salah satu akar ketapang dan berbincang bersamaku, bercerita tentang kisah orang tuanya yang bercerai, adiknya yang super nakal, perkelahiannya dengan sang kakak dan ia sendiri yang selalu dimanja oleh sang ayah.

Dan aku? Aku adalah pendengar setia, tukang konsumsi berita yang ia sampaikan sambil melongo karena terpana pada belah bibirnya, terpaku pada garis senyumnya, merana pada tiap bayangnya dan terpekur kala mengingat namanya. Seperti masyarakat modern yang terhisap oleh pusaran penawaran-penawaran tak masuk akal, yang sungguh sama sekali tak mereka butuhkan, namun terpesona dan berhasrat untuk menikmati candu technophile[3], memuja dan menuhankannya atas nama modernitas.

Suatu hari saat matahari setinggi tombak, dia menatapku terlentang di atas pondasi dengan bengkak di sekujur tubuhku; kaki, tangan, perut, wajah— semuanya.

“Mari ke dokter!” ajaknya lembut. Kujawab dengan semburat senyum di wajah. Tak kusangka dia masih mengenalku meski tubuh telah berubah karena bengkak.

“Tuhan telah memberi karunia dan aku tak kan menolaknya,” rintihku lirih.

Pipinya basah, banjir oleh air bah dari sudut mata tajam hitam legamnya. Ia membangunkanku dengan susah payah, kemudian memapahku, berjalan tertatih ke sebuah warung dan memesan seporsi makanan. Kami saling suap, dia tertawa melihat wajahku bak goresan sketsa gambar kartun dan meyibak tabir halus wajahku; rambutku.

Giliranku meneteskan air mata. Sungguh aku tak kuasa menahan sebuah nama yang bersemayam dalam sabitnya rembulan dan aku sebuah nama jalang yang berkeliaran di setiap ruas jalan, saling bertukar sayang. Meski aku keropos digerus penyakit, dia tetap setia menemani tubuh yang hina ini. Jauh di dasar lembah atau mungkin di palung hatiku, aku bertanya “inikah cinta?”

Dia kembali tertawa. “Cinta tak pernah mengenal nama. Cinta adalah perjumbuhan jiwa dengan jiwa. Sedangkan aku dan kau hanyalah nama-nama yang tak pernah mewakili jiwa kita. Nama adalah ilusi dan manipulasi yang belum pernah kusaksikan secara nyata menjadi doa,” ungkapnya padaku.

“Tapi, bukankah kita saat ini mencoba melakukan proses penyatuan atas jiwa kita, dan itu melalui nama?” tanyaku kemudian. Dia tertunduk dan tersenyum kecil. Aku kembali mengaduh karena tak mampu menahan siksa senyumnya.

“Itu, tatapan matamu,” katanya datar.

“Ada apa dengan tatapan mataku?” sergahku.

“Kau terkungkung pada tirani pandangan. Tatapanmu terpenjara pada wilayah kebendaan. Dan benda ini…,” ucapannya tertahan, pelan menggerakkan lengannya dan menempelkan ke dadanya

“….adalah penjara bagi jiwa. Esensi penyatuan terhalang oleh ini,” sambungnya sambil mengangkat tanganku dengan lengan satunya dan menempelkan ke dadaku.

“Namaku dan namamu adalah baris ejaan yang jarang mengejakan narasi hidup kita. Namaku dan namamu adalah baris ejaan yang akan diukir pada permukaan batu nisan yang ditanam di atas pusara.”

***

Kini aku terbang bersama kepak sayap burung, melewati samudera dan meninggalkan Dodinga[4], mendamparkan diri pada tanah kelahiran dan setiap malam selalu tersiksa atas kenangan saat menatap rembulan.

Pada sebuah kesempatan, kuambil belati di bawah bantalku, keluar menuju kebun pala, mengarahkan pucuk belati tepat di dadaku sambil menatap rembulan. Sekelebat dia turun dari rembulan membawa pedang dan rembulan kehilangan sinarnya. Sisi pedang yang tak tajam ia hantamkan pada belatiku. Belatiku terhempas.

“Apa yang kau lakukan?” teriaknya penuh amarah.

“Aku ingin keluar dari penjara,” jawabku.

Tiba-tiba, sesuatu bersayap datang mengambil belatiku dengan cepat.

Kilatan cahaya berbenturan, suara halilintar bergemuruh menimbulkan ketakutan, kulihat tanganku menggenggam belati berlumur darah. Aku terlentang di atas tanah di bawah pohon pala, sedang ia tertunduk di sebelah kepalaku dengan lutut sebagai tumpu dan dua tangan yang menancapkan pedang ke tanah. Pedangnya berlumur darah dan sesuatu yang bersayap itu kulihat berjalan pelan meninggalkan kami. Kelebat sayapnya memerah oleh percik darah yang masih segar.

Ia tersedu, menangis dan meratap. Aku tersenyum, meraba pipinya dan mencoba mengusap air mata yang deras mengalir. Dia menatapku sayu, memelukku dengan tangis yang menderu. Aku tersenyum melihatnya, kuusap kepalanya dan kubelai rambutnya. Kuraih dagunya dan mengarahkan pandangannya pelan agar melihat ke sebuah sudut di bawah pohon pala. Kuangkat tanganku dan kutunjuk sudut itu dengan kelingking. Dua buah nisan yang telah kuukir pada permukaanya, namaku dan namanya.

Lalu, sekelilingku samar. Kulihat daun pala berguguran seperti hujan, rontok oleh angin hasil sengitnya pertempuran. Dengan pelan pandanganku gelap dan tak terlihat sama sekali.

 ~Santa Lucia, 16 Mei 2011

[Iki Opo Lek???]

[1] Kie Matubu: Gunung Matubu yang berada di Pulau Tidore

[2] Kora Kora : Nama perahu perang masyarakat Maluku Utara

[3] Technophile: Kecintaan berlebih pada mesin danteknologi

[4] Dodinga: nama teluk antara Ternate, Tidore danMaitara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s