untitled

Tentang Nama

Oleh Hani Nugroho

What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet, begitu kata paman—atau Mbah sebagian orang bilang—Shakespeare.

Ini pembukaan kisah tentang nama.

Sebuah suku di Afrika Selatan menyatakan bahwa nama adalah sebutan atau panggilan yang unik pada setiap umat manusia untuk membedakan dirinya dengan orang lain.

Nama menunjukkan jati diri seseorang; darimana ia berasal, apa latar belakangnya, apa status sosialnya, dan untuk apa ia dilahirkan?

Segera setelah seorang anak lahir ke dunia, kedua orang tuanya mebolak-balik ratusan halaman buku, berkunjung ke ribuan orang bijak, mengatas-bawahkan lembaran website hanya untuk melegalkan status anak yang telah berhasil direproduksi; mencarikan nama untuknya.

Pemilihan nama biasanya akan jatuh pada nama-nama yang bagus, mengesankan, poetic flavor; terkesan puitis, meski ada juga yang mengikuti tradisi dengan memilih nama yang umum dipakai di daerahnya.

Sewaktu aku masih kecil, nama-nama teman sebayaku yang sering kudengar adalah: Monika, Andi, Andre, Natalia, serta namaku sendiri; Hani.

Nama-nama yang terdengar, layaknya nama-nama orang Barat. Ada juga nama yang terdengar seperti nama orang Indonesia: Agus, Hendrawan, Dimas, dan lain sebagainya.

Beberapa waktu lalu, temanku, Hadi hendak mengadakan kenduri.

Apa yang anda bayangkan dengan kenduri?

Tentu makanan yang melimpah-ruah, bukan?

Hadi pun menghubungi pihak katering secara online dengan telah melakukan inspeksi pada para tamu undangan sebelumnya.

Menu yang dipilih Hadi pun disesuaikan dengan selera atau pantangan para tamu undangan.

Lalu, pihak katering mengirim email balik padanya, menanyakan; “Are you Muslim? Do you need halal food?”

“Anda muslim? Butuh makanan halal?”

Geli ia mendengar pertanyaan itu dan menjawab;

“No, I’m not, I can eat any food, Tidak, aku bukan Muslim, aku makan apa aja.”

Rupanya nama yang disandangnya terdengar seperti nama muslim.

Mungkin pihak katering terpengaruh oleh dinobatkannya Singapore Idol yang lalu, Hady Mirza.

Banyak di antara teman-temanku yang menyandang nama-nama Arab, seperti: Muhaimin, Masruchin, Choirul Anam, bahkan ada yang namanya Isa.

Tak kalah banyak dengan teman-temanku yang menyandang nama-nama barat.

Ada hal menarik atau mungkin ironi bahwa nama-nama barat yang dipakai kebanyakan adalah nama-nama Inggris, seperti: Adrian, Stephanie, Allan, Alex, Anthony, Christine, dan lain-lain.

Padahal, masih banyak nama-nama Inggris yang lebih berkarakter dan jarang sekali orang Indonesia menyandangnya seperti: Ashley, George, Cameroon, Chuck, Murphy, Oswald, dan masih banyak lagi..

Banyak juga yang memakai nama Kristen, tak peduli dia beragama Kristen atau tidak.

Ada yang bernama Christin walau tak setetespun oase injil yang ia teguk.

Ada pula yang memakai nama para tokoh dalam Alkitab; bisa jadi para nabi, santa atau para uskup gereja, seperti: Petrus, Abednego, Joseph, Joshua, Johannes, Maria, Tizra, Hezron, Josafat, John, Michael, Matthew, atau tokoh gereja seperti Polikarpus.

Ada pula penyandang nama-nama Yunani walau pada kenyataannya mereka adalah penganut monotheis, seperti: Xaverius, Valentina, Camelia dan Agustinus.

Ada juga yang memakai nama para dewata, seperti: Flora (dewi bunga), Diana (dewi perburuan bangsa Romawi, ekuivalen dengan Artemis di Yunani), Luna (dewi bulan), Indra (dewa cuaca dan raja kahyangan), Wisnu (dewa pemelihara), Saraswati (dewi kebijaksanaan) dan Surya (dewa matahari).

Pernah suatu kali, tetanggaku, seorang berdarah Tionghoa berkenalan dengan orang Vietnam.

Seusai ia memperkenalkan dirinya, si Vietnam balik bertanya, “What is your western name, please?”

Ia bingung, lalu ia ingat bahwa setiap bangsa rumpun China memiliki dua nama, nama lahir yang lengkap runtut dengan sanad keluarganya dan nama internasional yang setiap orang di dunia—tanpa harus mengenal nama lahirnya yang sulit untuk dilafalkan—cukup mengenal dengan nama itu.

Pernahkah anda bertanya, siapa nama asli Jackie Chan, Jet Lee, atau Bruce Lee?

Rupanya, saking banyaknya orang Indonesia menyandang nama Barat, mereka, orang Vietnam, mengira bahwa bangsa Indonesia—Jawa yang saya jadikan patokan di sini—memiliki dua nama yang mereka akan memperkenalkan dirinya kepada bangsa lain dengan nama internasional yang disandangnya.

Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa banyak yang suka memakai nama Inggris, padahal nama-nama masyhur internasional tidak selamanya harus berasal dari Inggris?

Masih banyak bangsa lain yang budaya mereka tidak kalah dengan bangsa Inggris khususnya dan Eropa pada umumnya.

Cobalah sedikit kita keluar dari tempurung kita, menyibak ilalang yang menutpi pandangan, mengarungi lautan sahara demi mencari setitik oase.

Cobalah sedikit melirik tetangga kita, Filipina dan Timor Leste!

Banyak yang memakai nama bukan dari Inggris, seperti: Filipe, Ramos, Domingos, Armando, Boris, Vladimir, Jaroslav, Gustav, Wolfgang, Annetta, Manuela. Apakah mereka terdengar ngInggris?

Saya melihat orang Jawa sendiri makin menurun memakai nama Jawa.

Nama-nama Jawa, seperti: Rebo, Kliwon, Wage, Dhingklik (bangku kecil), Gudel (anak kerbau), Wakidi, Poniman, Katemo, Mukinem, Paniyem, Ika, Rahayu, Sinta, Bambang, Sudarsono, Suharto, Susilo, sudah tidak umum lagi disandang, terutama bagi masyarakat urban.

Bukankah jika kita berfikir lebih dalam lagi nama-nama tersebut memiliki great yang sangat luar biasa dan sense yang sangat mendalam, baik secara harfiyah maupun interpretasinya?

Saya melihat kecenderungan bangsa Indonesia memakai nama Barat semakin besar.

Ada seorang bekas pembantu paman saya yang menamakan putra mahkotanya, Henri.

Mungkin suatu saat nanti akan ada para orang tua yang menamakan anak-anak mereka dengan nama para penemu, seperti: Thomas Alva Edison, Enrico Fermi, atau bahkan Albert Einstein.

Dan tertawalah sepuasnya jika mereka, suatu saat nanti menjadi orang-orang sekaliber para pendahulunya.

Masih banyak di antara kita yang malu dan segan untuk menyandang nama-nama bangsa sendiri dan lebih senang untuk mengimpor nama-nama asing.

Kalaupun ada sebagian etnis yang tidak berkenan menyandang nama-nama lokal, itu bukan berarti mereka tidak mencintai bumi pertiwi ini.

Itu adalah urusan sanad keluarga.

Bukankah bangsa yang besar adalah mereka yang tidak melupakan leluhurnya?

Berbahagialah kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang bebas menentukan nasib, bangsa yang bebas bukan karena hadiah dari pemerintah kolonial, melainkan sebuah bangsa yang Tuhan pilih untuk menghirup udara kebebasan bahkan dari hal terkecil sekalipun, seperti, bebasnya bangsa ini untuk menyandang nama.

Tak seperti bangsa Arab dan serumpunnya yang hanya boleh menamakan anaknya dengan satu kata atau paling banyak dua kata. Selebihnya, adalah nama-nama rangkaian sanad keluarga.

Atau seperti Negara Singapura yang melarang beberapa nama untuk disandangkan pada bayi-bayi kecil yang baru lahir.

Sedang kita di sini?

Hal itu dapat anda rasakan sendiri.

~Sondakan, 2 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s