capture

Tumpul dan Tajamnya Nama

Oleh Widyastri

Manusia ditakdirkan untuk terlahir ke dunia yang penuh dengan nama.

Nama-nama memiliki ilustrasi setelah Alphabet menemukan rangkaian bunyi yang dapat dijadikan simbol dalam berkomunikasi.

Apabila kita berbicara tentang nama, satu hal yang pertama kali muncul dalam benak saya; nama saya yang sangat panjang.

Ini membuat saya agak membenci nama saya sendiri karena setiap mengikuti ujian negara, saya selalu menjadi yang terakhir dalam mengisi kolom.

Nama mempunyai peranan sebagai interpretasi dalam menjelaskan sebuah benda, peristiwa atau kegiatan.

Nama ibarat dua buah mata pisau, tumpul dan tajam.

Begitulah jika anda mengibaratkan nama pada suatu benda.

Sisi tumpul sebuah nama dapat kita lihat dalam sebuah istilah, sebagai contoh “Yin” dan “Yang”.

Istilah ini adalah sebuah nama yang sudah mengakar di kalangan masyarakat kita.

Namun, di kalangan masyarakat itu sendiri masih banyak yang tidak mengerti sepenuhnya arti dari istilah ini.

Umumnya, istilah ini diartikan dengan keseimbangan, namun keseimbangan apa yang dimaksud? Kita merasa sudah cukup dengan satu penjelasan “keseimbangan” tanpa harus mengerti keseluruhan arti dari Yin-Yang itu sendiri yang sebenarnya mereprentasikan banyak hal.

Ada yang menganggap Yin-Yang adalah keseimbangan antara sisi terang dan gelap, pria dan wanita, bahkan menurut sejarah, pengertian Yang adalah ajaran Kungfutze yang dipandang sebagai aktivisme dan Ying adalah ajaran Taoisme yang dipandang sebagai pasifisme.

Sisi tumpul lain dari sebuah nama dapat kita lihat dalam penggunaan merek yang menempatkan nama sebagai sebuah simbol dari produk-produk.

Perusahaan akan mencari dan memilih nama yang paling tepat untuk produk mereka.

Pemilihan nama akan diseleksi secara teliti, karena nama dari sebuah produk adalah hal yang krusial.

Nama—atau dalam hal ini disebut merek—akan mereprentasikan keseluruhan produk.

Dan konsumen, dengan mudahnya dapat langsung mempercayai kelebihan produk itu.

Konsumen tidak peduli apabila sebuah kaos bermerek yang sangat tipis, harganya akan melebihi tiga buah kaos kelas pasar yang bahannya lebih tebal dari kaos tipis bermerek itu.

Ketergantungan pada merek juga menyebabkan produsen tidak selalu menjaga kualitas produk mereka; karena mereka tahu bahwa konsumen sudah sangat bergantung pada nama atau merek produk.

Sama halnya dengan sebuah film atau buku, tatkala nama buku atau film cukup unik dan menarik, kita merasa tidak perlu untuk melihat referensi buku atau film tersebut karena judul keduanya telah mencakup keseluruhan isi.

Apabila ditarik dalam satu garis lurus, nama secara tidak langsung telah menjadikan manusia buta akan kejelasan berbagai hal.

Seperti, apa arti kata “woman”? pasti banyak yang menjawab “perempuan”, di mana sebenarnya kata tersebut lahir dari kata “wife of man” yang berarti “istri seorang lelaki”

Atau pernahkah para pengguna Facebook bertanya dalam relung jiwa mereka, mengapa jaringan sosial tersebut dinamakan demikian?

Kehadiran sebuah nama yang dianggap sebuah simbol menjadikan manusia tumpul akan berbagai penjelasan yang berkaitan dengan benda atau peristiwa itu sendiri.

Di awal sudah dijelaskan bahwa nama bagaikan pisau yang mempunyai dua mata sisi.

Sisi yang lain adalah sisi yang tajam.

Apabila kita melihat hanya dari satu sisi saja, akan keluar pernyataan “apalah arti sebuah nama!?”

Nama akan tampak tinggi pabila kita melihatnya dalam dua sisi.

Sisi tajam sebuah nama memang tidak lahir di jaman sekarang ini.

Jaman, di mana telah ditemukan berbagai nama untuk berbagai hal yang ada di dunia.

Ketajaman sebuah nama lebih nampak pada saat belum banyak lahirnya kosakata.

Sebenarnya, di awal saya sempat berpikir bahwa nama tidaklah begitu penting peranannya dalam hidup.

Namun, saya mengubah pikiran tersebut setelah melakukan pengamatan dan analisa sebuah film; The Miracle Worker.

Saya akan menjadi seorang yang munafik jika berpikir tidak terlalu memperdulikan atau melakukan penolakan dari dalam diri saya tentang adanya nama.

Nama adalah sebuah hal yang nyata dan penting. Mungkin kita—sebagai orang yang terlahir normal—akan menganggap nama adalah hal yang biasa.

Namun, sebagian orang yang tidak seberuntung manusia normal, akan berpikir lain.

Kita ambil contohnya saja dalam film The Miracle Worker; Hellen Keller seorang anak yang sejak lahir sudah menderita cacat mata, pendengaran dan suara menjadi sejarah karena mampu menyelesaikan studinya di Universitas Redcliff sebagai pengacara dan mendapat gelar kehormatan dari presiden.

Pada awalnya Hellen hanya dapat berkomunikasi dengan sentuhan tangannya, dia tidak mengenal kata-kata.

Bagi Hellen nama adalah hal yang sangat penting, karena dengan nama dia dapat melihat benda apapun di sekitarnya.

Sebelum dia mengenal nama, Hellen bersikap layaknya orang gila yang selalu marah setiap waktu.

Hal ini di sebabkan karena Hellen tidak dapat mengutaran rasa yang ada di dalam dirinya.

Anne Sullivan—seorang guru pribadi yang mengajarkan bahasa isyarat—yang disewa untuk menjadi gurunya, mengajarkan bagaimana menyebut nama benda-benda di sekitar Hellen.

Dengan cara itulah Hellen dapat melihat melalui sentuhan. Pada saat Hellen mengenal sebuah benda dengan sentuhannya, dia sangat senang oleh karena dia bisa mengutarakan apa yang disentuhnya.

Bagaimana bisa kita tidak membutuhkan nama, kalau setiap hari dari mulai masih bibit hingga sekarang kita masih menggunakannya?

Coba tanya saja pada Priyadi—seorang pujangga asal asal Salatiga—bagaimana dia bisa begitu terpengaruh dengan sebuah kata “transendensi”?

Coba apabila kata tersebut lahir dengan kata yang lain maka bagaimana Priyadi mengutarakannya?

Dan dengan Milkhan—seorang essayis asal Klaten— dengan kata “tubuh” yang selalu menjadi andalannya?

Atau Salikhin Gebe—seorang kritikus sastra asal Karanganyar—yang kata ”metal” selalu mengilhaminya.

Ataupun dengan Bandung Mawardi—penulis handal yang sebagian besar membuat rivalnya mati kutu—bagaimana lidahnya dapat mengakatan atau menyampaikan pikirannya yang egois namun masuk akal tanpa adanya sebuah nama?

Nama tidak hanya sebuah kata dari sebuah benda.

Namun, nama adalah sebuah refleksi dari benda itu sendiri; entah itu manusia, hewan, tumbuhan atau bahkan benda yang pikiran kita belum mampu untuk menjangkaunya.

Nama secara tidak langsung adalah salah satu elemen yang membentuk dunia ini.

Bagaimana Gayus akan dikenang sebagai penjahat negara, Hitler dengan kekokohan besinya, Muhammad yang ditaati ajarannya, atau bagaimana kita dapat menyebut penguasa alam ini dengan Tuhan apabila sebuah nama dianggap tidak penting?

Tajam, karena sebuah nama adalah distributor ideologi atau pemikiran yang ada di dalam pikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata dan bisa kita rasakan.

Nama tidak hanya sebuah nama untuk suatu benda, namun untuk seluruh kata; tak terkecuali kata kerja ataupun kata sifat.

Nama lahir juga karena kebutuhan manusia dalam berkomunikasi, bahkan dalam hidup.

Apabila kita memang orang yang modern dan lebih maju, tentunya kita harus lebih pandai dan kritis dalam mengapresiasikan nama dibandingkan orang-orang jaman kuno dalam mengapresiasikannya.

~Banyuanyar, 2 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s