abstrak

Peranan Budaya Dalam Nama

Oleh Febri Aryanti

Ketika kita bergumam tentang nama, ia hanyalah perantara maksud dari sebuah tujuan yang diinginkan dari seorang subjek kepada objek, baik individu atau dalam lingkup sosial.

Hal ini dimungkinkan lahir dari sebuah budaya yang mana menjadi backgroundnya.

Budaya yang lahir dari suatu bangsa ini melekat pada masing–masing nama yang mana menjadikan nama tersebut berbeda arti namun istilah sama.

Hal ini pernah disinggung dalam sebuah buku karya dari salah satu mantan presiden RI keempat, almarhum Abdul Rahman Wachid atau Gusdur, dengan judul Tuhan Tidak Perlu Dibela, dia menuliskan bahwa nama Tarbiyah dalam hal ini diartikan sebagai pendidikan namun akhirnya dipersempit oleh budaya lingkup Islam menjadi pendidikan agama Islam.

Hal inilah yang disebut bahwa sebuah nama dibentuk dari budaya.

Apabila kita tengok pada sebuah lingkungan sosial, seperti tempat–tempat dalam penjuru kota, di setiap tikungan–tikungannya kita dapat menemui dongeng–dongeng atau cerita rakyat yang hadir dari nama, seperti legenda dari nama danau Toba atau yang lainnya dan hal ini secara tidak sadar telah diyakini oleh akal pikiran kita yang sedang berkembang atau bisa dibilang mengalami tahap refresh jilid II.

Nama yang tepapar di hadapan kita diibaratkan seperti halnya sel yang berkembang.

Sel ini tak akan kenal mati apabila tumpuannya masih hidup dan tumpuan yang dimaksud adalah organ tubuh.

Sel di dalam organ tubuh akan setia padanya, hal ini sama halnya dengan nama di mana tumpuannya adalah budaya.

Nama dapat mewakili seseorang atau sesuatu di suatu tempat meskipun keduanya tidak pernah terlihat ciri–cirinya karena pada dasarnya nama muncul dari bentukan budaya yang beriringan dengan ciri–ciri atau identitas.

Identitas sendiri apabila di ungkapkan atau dikatakan berati menjadi sebuah pernyataan, di mana pernyataan tersebut tidak mengulas segala macam ciri–ciri yang ada pada identitas itu.

Pernyataan atas segala sesuatu yang kita yakini atau sekedar pernyataan bahwa aku sakino tukang sate dengan tegas dan seksama aku adalah si tukang sate menjadi sebuah identitas pernyataan yang menjadikan nama tetap menjadi isi perut budaya.

Budaya lain yang melahirkan nama hadir di Jawa “poyokan”, yang mana lebih dikenakan “karapan.”

Istilah ini hadir akibat dari dongeng yang telah mendarah daging pada masyarakat kita.

Kita dapat melihat di istilah gundul. Istilah ini pastilah untuk benda yang berbau bulat, tidak berupa kotak, tabung atau segitiga.

Istilah sering di tempatkan pada ciri–ciri fisik seseorang terutama pada kepala.

Pengertian gundul akan tetap tinggal pada kepala saja meskipun apabila kita tela’ah gundul bisa saja tidak hanya berurusan dengan kepala saja, maka sudah lumrah dan membudaya apabila disebut gundul adalah orang yang tidak mempunyai sehelai rambut untuk kepalanya.

Budaya Indonesia yang bermacam–macam menjadikan nama muncul menjadi sama arti namun berbeda maksud.

Kita dapat mengambil contoh pada ketela di mana masyarakat Jawa sering menyebut sebagai pohong, lantas bagaimana dengan masyarakat lain? Bahkan di dalam Jawa sendiri ada pula yang memanggil pohong sebagai banggreng.

Hal ini sah–sah saja mengingat nama tersebut masih dapat di terima logika budaya dari masyarakat.

Namun apabila nama dihadapkan pada sebuah fenomena yang tidak dapat masuk sebuah logika budaya dari masyarakat maka nama akan menjadi sebuah aib dari masyarakat itu sendiri, semisal kita dapat mengambil sebagai berikut.

Seorang pelajar dari sekolah elit di mana sekolah menganut paham iso dan pada saat hari kelulusan seorang pelajar meneriakkan dengan lantang dan bersemangat “saya tidak lulus”, maka reaksi dari orang–orang sekitarnya akan berbeda.

Mereka akan terkejut bahkan mungkin saja marah karena notabene bertimpang balik dengan apa yang tertanam pada logika budaya masyarakat.

Logika yang mengatakan bahwa tidak lulus merupakan suatu aib, di mana dia adalah sebuah titik klimaks kemaluan bagi sekolah elit tersebut.

Di dalam salah satu cerpen Putu Wijaya yang berjudul Indonesia menceritakan bahwa karakter ‘aku’ ini menyatakan sebuah statement bahwa ‘aku tidak bangga Indoneisia’.

Hal ini menjadi bumerang bagi si ‘aku’, di mana pernyataan tersebut menjadikan ‘aku’ diperangi oleh banyak pihak mulai dari jajaran pejabat, polisi dan tentunya dari masyarakat.

Dia dipaksa untuk minggat dari wilayah yang dia tinggal karena bagi masyarakat di mana kurang lebih ada sekitar dua ratus dua puluh jiwa itu menganggap bahwa ‘aku’ telah melakukan pengkhianatan dan perlu dimusahkan.

Hal terjadi sama saja pada saat ‘aku’ masuk Hotel Rodeo, di sana dia pun dikecam dan diancam akan dimusnahkan.

Pernyataan si aku ini telah mengidentifikasikan bahwa si ‘aku’ adalah seorang pengkhianat negara bahkan melebihi dari para kriminal–kriminal penjara.

Di sini di tunjukkan bahwa budaya mempunyai andil yang besar dalam pembentukan perpekstif dari sebuah nama. Logika budaya masyarakat telah dijadikan timbangan relevansi dari sebuah nama.

~Ngemplak, 2 September 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s