Chairil dan Eksentrisme

Oleh Nimas Dara

Nama telah di hadirkan dan di pertanyakan sejak kita lahir.

Kita telah berjalan dalam dunia nama, meski kita sadar akan hal tersebut atau mungkin tidak.

Banyak sekali nama-nama besar yang kita sanding, seperti Calvin Klein, Converse, Nokia, Blackberry atau yang lainnya.

Nama besar sering dinyanyikan di jalanan, kantor, sekolah bahkan di dalam toilet.

Kehadiran nama-nama besar itu berjalan menghapus memori nama-nama yang seharusnya dianggap sebagai nama besar.

Nama-nama para penoreh sejarah, para pemikir pengubah dunia sperti, Tan Malaka, H.B Yasin, Socrates, Karl Max ataupun Sartre.

Nama-nama ini hanya akan muncul pada acara-acara tertentu, seperti simulasi sejarah, renungan-renungan studi. Nama-nama ini tidak dapat di hadirkan dalam keseharian pada masyarakat komunal.

Namun, Sjuman Djaya telah mendobrak keganjilan tersebut dengan salah satunya bukunya AKU.

Sjuman Djaya adalah seorang seniman dan sutradara.

Dia adalah salah satu sutradara yang tidak “patuh” oleh para produser film.

Film-filmnya yang telah bertengger di layar bioskop, di antaranya Si Doel Anak Betawi dan Si Mamad (1973), Si Doel Anak Modern (1976), Kabut Sutra Ungu (1974), Kartini (1982) dan masih banyak lagi.

Sjuman Djaya merasa bahwa nama Chairil Anwar perlu disuarakan kembali.

Chairil Anwar adalah seorang seniman yang dulunya tak mendapatkan standing applause oleh seniman-seniman lain.

Dia dikucilkan karena di anggap sebagai seniman yang liar dan jalang.

Bahasanya yang lugas dan kritis telah menuai cemooh dari seniman lain yang memuja bahasa mendayu–dayu yang telah menjadi tombak para penyair pada masa itu.

Setelah Chairil meninggal barulah para seniman dan kritikus mengakui karya-kaya Chairil Anwar.

Chairil lahir pada masa penjajahan dan dia pun besar pada masa penjajahan Jepang.

Dia tumbuh besar di dalam panorama perang yang keras dan sesak.

Di dalam buku AKU ini, dia menyuarakan suara kebebasan akan penindasan dari para penjajah.

Di dalam AKU tertera banyak syair-syair puitis Chairil Anwar.

Dari mulai Hiroshima, keliaran kuda binal, gemuruh dari Lapanagn Ikada hingga refleksi kehidupan pribadi Chairil Anwar.

Salah satu sajak terkenal dari Chairil Anwar ialah sebagai berikut:

AKU ! / Kalau sampai waktuku / Kumau tak seorang kan merayu / Tidak juga kau / Tak perlu sedu sedan itu / Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang / Biar peluru menembus kulitku / Aku tetap meradang menerjang / Luka dan bisa kubawa berlari / Berlari / Hingga hilang pedih peri / Dan aku lebih tidak peduli / Aku mau hidup seribu tahun lagi

aku-sjumandjaja

Bahasa yang lugas menusuk telah menjadi ciri khas dari gaya penulisan Chairil Anwar.

Di dalam buku karangan Sjuman Djaya ini terlontar suara dan isi hati dari penyair nyentrik ini.

Buku ini adalah buku yang layak sebagi investasi.

Investasi yang pantas untuk mencapai keheningan hidup dan menambah misteri dalam hidup karena dasar dari syair ataupun puisi adalah keheningan dan misteri.

~Banyuanyar, 2 Sepetember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s