nenek-kael

Nenek KaEl

Oleh Beyrul

 Bug Rambaké pintenan, mbah?”[1] tanya Rhey kepada seorang nenek yang kerap duduk menjajakan makanan Bug Rambak di Gedung E setiap pagi.

Monggo, kersane mbaké tumbas pinten,[2]” jawab nenek.

Ternyata, Rhey tidak hanya beli Bug Rambak, tapi juga Berambang Asem dan Bola Ronde.

Setiap hari Kamis, Rhey selalu puasa, dan di hari itu juga Rhey sering beli makanan untuk bersedekah.

Akuh, Towil, Pepi, dan Kutil sudah menunggunya di Gedung A sebelum masuk kuliah Ulumul Quran.

Eh, cah, iki mesti Rhey tuku jajanan og,[3]” Pepi membuka obrolan.

Iki dinane opo tho? Oh iyo, iki Kemis og ya, wah iyo iki![4]” Kutil menebak dengan muka sumringah, menampakkan gigi gingsul kanannya yang menyentil bak kutil.

Beberapa detik kemudian, Rhey datang dengan bungkusan makanan tercangking di tangannya.

“Panjang umur, Rhey,” sapakuh.

“Hayo, pasti kalian pada ngerasani[5] aku ya?” tanya Rhey penasaran.

“Hahaha,” gelak tawa Towil terpecah, mengetahui Rhey mencangking[6] bungkusan makanan, “Iya, kita menerka kamu pasti bawa makanan pagi ini, jelas ini membuatku lapar.”

“Hmmm, dasar kalian. Nih, dibagi rata!” Rhey mengelungkan[7] bungkusan makanan yang telah dibelinya dari nenek yang sering duduk menjajakan makanan di Gedung E.

Kami berempat membagi bungkusan makanan dan memakannya dengan lahap.

Rhey hanya tersenyum senang melihat teman-temannya makan.

“Kamu nggak ikutan, Rhey?” tanya Towil.

“Kamu tuh nggak pekaan banget sih, Towil. Rhey kan kalo Kamis puasa,” ingatku padanya.

“Puasa tho, Rhey?” tanya Towil.

“Iya, Wil, aku puasa,” jawab Rhey.

“Hehehe, maaf…” tawa kecil Towil.

“Nggak, papa,” sahut Rhey.

***

Waktu menunjukkan pukul 08.00. pagi.

Pintu kelas terbuka dan seluruh mahasiwa yang ada di dalamnya berhamburan keluar.

Bunyi gesek sepatu dengan lantai dan cuitan kecil obrolan ikut meramaikan cerahnya pagi.

Kami berlima masuk kelas Ulumul Quran dengan Pak Subanji sebagai dosennya.

Ia dosen yang sangat familiar dengan mahasiswanya, humoris, jenaka, dan sangat faktual dalam menjelaskan keilmuan-keilmuan Islam sehingga mudah tercerap pada pemahaman.

“Baiklah anak-anakku sekalian, pagi ini kita akan mempelajari Surat al-Ma’un. Sebelumnya, saya ingin salah satu di antara kalian membacakan surat tersebut secara tartil,” buka Pak Subanji pada materi Ulumul Quran pagi itu.

“Coba, saya ingin Siti membacakan surat tersebut!” Pak Subanji menunjuk Siti, seorang Qoriah yang sering mewakili kampus pada pembukaan acara-acara resminya.

Mendengar suara bacaan tartil Siti, Kutil jadi terkagum dan terpesona.

“Wah, suaranya,” Kutil ternganga.

“Kut, kamu udah minum obat?” tanyakuh berbisik.

“Apaan sih, Put. Dengerin itu lho! Kamu nggak bisa merasakan merdunya tho?” jawab Kutil dengan ekspresi wajah yang sedang tidak ingin diganggu.

***

Shodaqollahul ‘adzhim,” tutup Siti bacaan tartil Surat Al-Ma’un.

“Baik, selanjutnya, saya minta Pepi membacakan arti dari surat ini!” pinta Pak Subanji pada Pepi.

Pepi membacakan arti surat tersebut dengan bacaan poetic flavor, sungguh indah.

“Baik, siapa yang tahu tentang asbab nuzul dari surat ini?” Pak Subanji mulai masuk pada pembahasan materi kuliah Ulumul Quran pagi ini.

Pepi sangat antusias mencatat segala keterangan yang disampaikan Pak Subanji, begitu juga Towil.

Kutil mulai menguap, meski kelopak matanya masih terbelalak, upaya menunjukkan bahwa ia tengah memperhatikan, namun kadang juga kepalanya teklak-tekluk[8].

Sedangkan Rhey, akuh melihat Rhey dengan mata berkaca dan sedikit terisak.

Ada apa dengan Rhey? Apa yang ia sedihkan dari keterangan Bapak Subanji?

Akuh pun tak mau ketinggalan mencatat keterangan yang disampaikan Pak Subanji, sesekali membalang[9] bola kertas pada Kutil, kala ia terkantuk dan pura-pura melanjutkan menulis.

Kutil ingak-inguk[10], siapa gerangan yang melempar bola kertas padanya.

***

Materi kuliah Ulumul Quran telah usai, kami berlima langsung capcus menuju tempat favorit habis kuliah, WTS, atau Warung Tengah Sawah.

Kutil memesan kopi susu dan sebungkus rokok.

Towil memesan kopi hitam dan beberapa gorengan.

Akuh, Pepi, dan Rhey pesan mie rebus.

Kita berlima bercengkrama, menceritakan kembali keterangan-keterangan materi yang disampaikan oleh Pak Subanji di kelas tadi.

Akuh bercerita, bahwa di tengah Kutil teklak-tekluk mendengarkan materi, secara jail kuh lemparkan bola kertas padanya, membuatnya ingak-inguk, mencari siapa gerangan yang pelakunya.

“Wah jahatnya kamu, Put…” ungkapnya padakuh.

“Kok bisa, kan bener, justru kalau akuh nggak ngejailin, kamu nggak bakal paham nantinya,” belakuh.

“Iya, sih. Makasih ya, Putri,” ucapnya.

“Iya, sama-sama,” jawabkuh.

“Eh maksudku, kamu jahatnya ma tukang klining, Put. Siapa coba yang bersih-bersih?” timpal Kutil.

Semua tertawa dengan timpalan Kutil yang nadanya menginterogasikuh.

“Ih, Kutil… udah ah,” pintakuh padanya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Eh Rhey, akuh tadi lihat kamu terisak di kelas. Kamu lagi ada masalah?” tanyakuh pada Rhey.

“Iya aku tadi juga dengar,” tambah Pepi.

“Ya, kalau kamu ada masalah, cerita dong Rhey. Kan ada aku, Putri, Pepi, Kutil. Kita selalu ada lho buat kamu,” khutbah Towil.

“Nggak ada apa-apa sih, teman-teman,” jawab Rhey singkat.

“Trus, ngapain kamu tadi nangis di kelas?” interogasi Kutil.

“Ih, sok tahu banget sih ni anak,” tunjukkuh.

“Ya tahu lah, loe pade kan yang barusan cerita. Ah… Putri nggak paham pragmatik sih…” argumen Kutil.

“Iya iya Mas Pujangga,” desahkuh.

“Lanjut, gimana ceritanya, Rhey?” tanya Kutil lagi.

***

“Gini lho, teman-teman.  Kalian tahu nenek yang tiap hari magrok[11] di Gedung E, yang menjajakan makanan Bug Rambak, Berambang Asem, Bola Ronde, dan makanan ringan lainnya?” pancing Rhey.

“Tahu,” jawab kami hampir bersamaan.

“Trus, hubungannya sama kelas Pak Subanji apa?” interogasi Pepi.

“Di situlah poinnya. Saat Pak Subanji menerangkan tentang kemiskinan di negara-negara berkembang, dan himbauan untuk menyantuni kaum fakir-miskin dan anak yatim, aku teringat nenek yang tiap hari jualan di Gedung E itu.

Tiap hari ia susuri kolong langit hanya untuk berjuang mengais rejeki.

Teman-teman ketahuilah, ia memiliki tiga orang cucu yang masih kecil.

Cucu pertama masih duduk di kelas 1 SMA, cucu kedua masih berumur kelas 6 SD, dan cucu terakhir umur kelas 2 SD.

Ketiganya diasuh oleh nenek, karena ayah dari ketiganya telah tiada, meninggal dunia pada Oktober 2007 di Selat Kadatua, karena saat berlayar kapal yang ditumpanginya karam.

Saat itu si bungsu baru berumur dua bulan dalam kandungan.

Selepas si bungsu berumur dua tahun, ibu dari ketiganya mengadu nasib menjadi buruh cuci di Jakarta hingga sekarang.

Untuk membahagiakan cucunya, nenek tidak menunggu kiriman sangu[12] dari anaknya yang ada di Jakarta.

Ia memilih berjalan menyusuri kolong langit, mengais satu-dua recehan rupiah hanya untuk memberikan uang saku pada cucunya.

Beruntung cucu sulungnya juga membantunya kalau udah pulang sekolah.

Demikian, ia bercerita padaku dengan senyum tegar yang dimilikinya,” pungkas Rhey pada ceritanya.

“Benar-benar Nenek Kael yang tegar?” sahut Towil.

“Maksudnya?” tanya Rhey penasaran.

“Iya kan? Seorang nenek yang tegar, yang hanya ingin menyantuni anak yatim, ia rela menyusuri kolong langit di usianya yang sudah senja?” terang Towil.

“Wah, julukan yang kamu berikan itu indah sekali, Towil. Nenek Kael.” timpalku.

Kog apik ya?[13]” pandangan Kutil.

Ho’o, unik![14]” sambung Pepi.

Wah, suk kapan-kapan tak gawé cerito ah, ketoké indahmen ngono lho ceritané mbahé ki,[15]” angan Kutil.

“Bagaimana kalau tiap hari kita menolong nenek itu?” usul Pepi.

“Caranya?” tanya kami hampir bersamaan.

“Tiap hari kita membeli jajanan nenek. Senin jatahku, Selasa Putri, Rabu Towil, Kamis Rhey, Juma’t Kutil. Gimana, teman-teman?” usul Pepi.

“Setuju,” jawab kami—akuh, Towil, Rhey—hampir bersamaan.

“Ummm, teman-teman, aku kalau Jum’at ada latihan ngeband,” Kutil beralasan.

“Kutil…” serentak suara kami berempat dengan mata terpicing padanya.

“Iya deh, iya, aku setuju,” setuju Kutil akhirnya.

“Huh… orang kog sukanya alesan,” cibirkuh.

“Alesan gimana tho, Put?” timpal Kutil.

“Halah, akuh tuh tahu, Kutil ngebandnya tiap Sabtu malem, bukan Jum’at. Dia tuh kalau Jum’at nyuci,” tambahkuh.

“Lho, lha iya tho, Put, ngeband? Mencuci itu tidak bedanya dengan compose lagu tauk, bla bla bla bla bla…” sambung Kutil dengan penjelasannya yang panjang lebar.

***

Dalam Rangka Hari Kartini

Hadir dan Saksikan

Lomba Baca Puisi

Bertempat di Halaman Gedung E

Pada Kamis, 21 April 2011

Peserta Bebas Bagi Warga Kampus

Dipersembahkan oleh Teater Sirat

“Lihat poster itu, teman-teman. Teater Sirat mengadakan Lomba Baca Puisi besok pada Kamis 21 April 2011. Pasti pengunjungnya ramai,” Rhey memulai obrolan.

“Kita ikutan enggak?” tanyakuh.

“Putri mau ikut?” tanya Rhey.

“Mau sih, tapi malu,” jawabkuh.

“Ngapain mesti malu, aku juga ikutan kog, Put,” sahut Pepi, “entar kita berdua maju di lomba itu,” tambahnya.

“Kalian bertiga gimana?” tanya Pepi pada Towil, Rhey, dan Kutil.

“Hehe… maaf aku ndak bisa mbaca puisi, tapi, aku datang kog, ndukung kalian berdua,” jawab Towil.

“Kalau kamu, Kut?” tanya Pepi pada Kutil.

Horok[16], lha wong aku ama bandku jadi bintang tamu di acara itu kog, mosyok yo jadi peserta. Yo wagu,” jawab Kutil.

“Kalau kamu, Rhey?” tanya Pepi pada Rhey.

“Aku tuh pingin mbahagiain, nenek. Sekali-sekali daganganya ludes habis di hari itu juga,” jawab Rhey

“Emang gimana caranya, Rhey?” tanya Pepi.

“Aku pingin, di hari lomba baca puisi, aku beli semua dagangan nenek. Namun, untuk itu, aku butuh kerjasama dari teman-teman Teater Sirat. Aku dengar, teman-teman Teater Sirat, orang-orangnya suka membantu dan mengasihi mereka yang membutuhkan bantuan,” Rhey mencoba mengawali idenya, “jadi, selepas peserta membaca puisi, mereka turun podium dan menerima sepincuk[17] makanan dari nenek,” jelas Rhey.

“Wah, ide bagus tuh Rhey,” sahutkuh, “akuh ikut nyumbang,” tambahnya.

“Aku juga,” sahut yang lain hampir bersamaan.

“Bagaimana caranya aku minta bantuan Teman-teman Teater Sirat?” tanya Rhey.

“Lurah Teater Sirat!” jawab Towil bersemangat.

“Hmmm, lurah ya?” Rhey berpikir sejenak.

Towil menunjuk Kutil dan Rhey seakan paham dengan isyaratnya, “eh, Kut, kamu kan deket ama Lurah Teater Sirat. Kamu sampein masalah ini, bisa?” tambah Rhey dengan bertanya pada Kutil kemudian.

“Oh, kalau masalah diplomasi ama Lurah Teater Sirat mah gampang. Serahkan semuanya pada Kutil,” jawab Kutil bertepuk dada dengan senyum gingsul yang menyembul bak kutil, “sore ini kita mau ketemuan masalah randon,” tambahnya.

***

Kamis, 21 April 2011; tiba hari dimana lomba puisi diadakan.

Semua peserta adalah warga kampus yang secara langsung mendaftar di tempat dan dadakan, atau spontan.

Kutil dengan bandnya, melantunkan tembang dengan judul al-Ma’un, sebuah lagu dengan aransemen gothic-romantic berhaluan subuh, sebuah performa yang sangat memukau.

Akuh melihat, Rhey tengah ingak-inguk ke sana ke mari mencari seseorang.

Ia nampaknya tengah mencari Nenek Kael yang di hari itu tidak hadir.

Wah, ada yang tidak beres ama Kutil.

Nampaknya ia tidak menyampaikan aspirasi Rhey pada Lurah Teater Sirat.

Akuh lihat, Rhey kemudian menemui Lurah Teater Sirat.

Entah apa yang dibincangkannya, namun senyum di wajah Rhey merekah.

“Peserta selanjutnya, dengan nama Putri,” akuh mendengar suara MC memanggil namaku.

Akuh naik ke podium dan tidak lagi memperhatikan Rhey.

Apa yang aku lihat hanya Towil dan Pepi yang terus memberi semangat.

***

Kolong Langit

Rhen,

~Surakarta 7 Nopember 1992

Selesai sudah akuh membaca sebuah puisi berjudul Kolong Langit, karya Rhen di atas, seorang penyair yang namanya hampir sama dengan nama sahabatkuh, Rhey.

Sebuah puisi yang menggambarkan sosok perempuan pejuang, yang rela menyusuri kolong langit Surabaya; membantu mujahidin melawan dan mengusir tentara sekutu pimpinan Mallaby.

Sebuah puisi yang bagikuh tengah menggambarkan perjuangan Rhey saat ini.

Hah, tapi sayang, tak ada sepincuk Bug Rambak atau Berambang Asem yang menyambutkuh.

***

“Ya, itu tadi peserta terakhir kita, tapi jangan kemana-kemana. Bagi anda yang berkenan, sambil menunggu dewan juri menghitung hasil, kita akan bagi-bagi hadiah buat peserta semua,” terang Andi, MC kocak pada hari itu.

“Weh, belum ada pengumuman kog udah ngasih hadiah tuh, gimana?” timpal Jembling.

“Wo, lha iya, orang kita kan lumo[18]. Kita kan orangnya dermawan, suka bagi-bagi hadiah,” sahut Andi.

“Emangnya, hadiah ini dari siapa buat siapa, Ndi?” timpal Jembling lagi.

“Ini hadiah didatangkan langsung dari sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, berdarah Cut Nyak Dien dan bernafas Kartini,” terang Andi.

“Apa itu, Ndi?” Jembling mulai menyudut.

“Baik langsung saja, inilah dia,” pinta Andi pada Jembling, “Bug Rambak dan Berambang Asem karya asli dari Nenek Kael,” Andi dan Jembling bersama mengucapkan dengan gegap gempita.

Seketika pasukan pantomim menyuguhkan hidangan tersebut kepada para peserta yang tengah menunggu hasil pengumuman dari juri.

“Oallah, pantesan akuh nggak disambut pincuk Bug Rambak habis mbaca puisi,” bisikkuh pada Pepi.

“Iya, kirain rencana Rhey nggak jadi lho,” timpal Pepi.

“Pantesan tadi dia senyum ya, pas ngobrol ama Lurah Sirat,” sambung Towil.

“Ih, Towil, kamu merhatiin itu juga tho?” tanyakuh pada Towil, “kog kamu merhatiin banget sih?” interogasikuh.

“Apaan sih, Put,” jawab Towil.

“Cie cie, ada yang mukanya merah,” girangkuh, “lihat, Pep, ada yang mukanya lagi merah,” ajakkuh pada Pepi.

Akuh dan Pepi tertawa riang melihat muka Towil yang merah karena kami berdua mengecrokinya[19].

Suara performa Kutil kembali mengalun dan kami, para peserta menikmati hidangan Bug Rambak dan Berambang Asem Nenek Kael.

***

Pengumuman pemenang telah dibacakan, dan pemenangnya bukanlah akuh, bukan pula Pepi.

Tapi akuh sudah merasa menjadi pemenang; melihat Kutil dengan performanya yang memukau; Towil yang kemudian sedikit membuka perasaanya terhadap Rhey di waktu kita menikmati Bug Rambak; Pepi yang bangga bisa berpartisipasi pada acara Kartini, begitu juga akuh; dan Rhey yang sangat senang bisa sedikit membantu Nenek Kael.

Kemudian, akuh melihat Nenek Kael pulang menyusuri kolong langit dengan tenggok[20] yang sudah kosong, karena jualannya di hari itu sudah habis.

***

Nenek Kael tidak pernah muncul lagi di Gedung E.

Kita, hingga kini belum tahu namanya, dan dimana alamatnya.

Namun, kami mengenalnya sebagai Nenek Kael, seorang nenek yang rela menyusuri kolong langit hanya untuk mencari satu-dua receh rupiah untuk cucu-cucunya, bahkan di usianya yang telah senja.

~Rawamangun, 12 Rabi’ul Awwal 1438 H

[Iki Opo Lek???]

[1] Bug rambaknya berapaan, nek?

[2] Silahkan, cucu mau beli berapa

[3] Hey, teman-teman, ini mesti Rhey beli jajanan

[4] Ini hari apa? Oh iya, ini Kamis, kan? Wah iya!

[5] Ngerasani adalah ngegosip

[6] Mencangking, artinya membawa

[7] Mengelungkan, artinya memberikan

[8] Teklak-tekluk, artinya tertunduk dan kembali berdiri

[9] Membalang, artinya melempar

[10] Ingak-inguk, artinya toleh kanan, toleh kiri, melakukan investigasi

[11] Magrok, artinya berdiam diri

[12] Sangu artinya tunjangan

[13] Kok indah ya?

[14] Iya, unik

[15] Wah, kapan-kapan aku buat cerita ah, kayaknya, indah gitu lho kisah si nenek

[16] Horok ialah ungkapan menyergah

[17] Satu porsi makanan yang dibungkus dengan daun pisang

[18] Lumo, artinya dermawan

[19] Mengecroki, ialah istilah yang digunakan untuk menertawi, menjodo-jodokan, atau menangkap basah seseorang

[20] Tenngok adalah wadah yang digunakan untuk membawa seperangkat dagangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s