capture
Meski sistem dan lingkungan sekolah begitu represif, namun Soekarno dan tokoh lain tetap bisa jadi the rebellion dan mendorong rakyat untuk merdeka.

Sihir Sekolah

Oleh Priyadi

Sekolah diyakini sebagai satu- satunya sumber untuk perkem-bangan dan perubahan zaman.

Abad XX menjadi abad menumbuhkan keyakinan dan iman baru, yakni iman sekolah!

Seseorang melakukan negasi terhadap iman baru ini, yang telah dikultuskan sebagai gerbang suci menuju altar pemujaan baru bagi masyarakat abad XX yang mesti dilewati demi menciptakan dunia yang beradab.

Pembentukan identitas diri dan transformasi sosio-kultural serta pembentukan kaum elite terpelajar lahir dari sekolah.

Sihir sekolah telah merubah tradisi feodal di negeri ini runtuh, luluh-lantak, kocar-kacir.

Namun perlu kiranya dilihat kembali bahwa dengan hancurnya tradisi feodal, sekolah justru melahirkan masyarakat dengan kasta baru, kelompok elite terpelajar dan kelompok jelata “tak berpendidikan”.

Sekolah di negeri ini dari akhir abad IX bagi Boemi Poetra dianggap berkah dan petaka (Mawardi:2011).

Kaum elite terpelajar memimpikan kemodernan dan kemerdekaan negeri.

Laku pendidikan berbasis local wisdom dengan pelan ditendang secara halus.

Sekolah warisan kolonial awalnya dikhususkan untuk orang-orang tertentu, anak-anak Belanda dan Inlander saja.

Sekolah penuh diskriminasi: dari hak anak-anak untuk dapat sekolah hingga diskriminasi lingkungan di sekolah itu sendiri.

Seperti pengakuan Soekarno pada Cindy Adams: “Kalaupun mereka memberi perhatian kepada kami, itu hanja untuk membusukkan kami atau menjorakkan,” (1966:71).

Meski perlakuan diskriminatif, rasis dan represif yang kelewat batas terjadi, Soekarno tetap dapat bertahan.

Buku-buku di luar tugas sekolah tetap ia lahap dengan rakusnya.

Sekolah menyihir Soekarno jadi orang yang melek huruf sekaligus melek baca.

Sebagai sebuah sentral peradaban, sekolah, telah menyihir Soekarno, Sjahrir, Hatta, Moh. Yamin, Ki Hadjar Dewantara, dr. Wahidin Soediro Hoesodo dan sederet nama tokoh lain jadi founding father negeri ini, sekaligus pemikir dan orang berjiwa revolusioner.

Meski sistem dan lingkungan sekolah begitu represif, namun Soekarno dan tokoh lain tetap bisa jadi the rebellion dan mendorong rakyat untuk merdeka.

Sekolah sebagai warisan kolonial tetap terlestarikan.

Bahkan kini kian membuncah, melimpah, tumpah-ruah.

Tapi tetap saja diskriminatif!

Sekolah berfasilitas lengkap dan mewah untuk para konglomerat, sekolah minim fasilitas buat para melarat, sekolah tanpa biaya khusus bagi rakyat melarat-sekarat atau untuk orang pilihan saja.

Diskriminasi dari sisi ekonomi itu tetap subur dipelihara.

Bagaimana dengan diskriminasi lingkungan sekolah? Terlalu melimpah untuk dibeberkan.

Anak didik orang bertahta dapat perhatian khusus, nepotisme di balik punggung kukuh merajalela, pembedaan pemberian perhatian pada anak didik yang orang tuanya berposisi dan berpunya telah jadi rahasia umum meski terselubung.

Sekolah pada era pra kemerdekaan telah menyihir para elite jadi para pemberontak dan pemikir.

Mereka tak hanya berjuang mencari selembar kertas ijazah melainkan memiliki kemauan buat merubah bangsa ini dari ketertindasan.

Meski, imajinasi mereka tentang sekolah tak ayal pula terpengaruhi oleh semangat pembaratan.

Entah karena sekolah kini adalah warisan kolonial sehingga berjiwa kolonial pula.

Nyatanya, sekolah saat ini telah menyihir anak didik bersikap pragmatis dan apatis.

Berpragmatis untuk segera lulus dan mendapatkan dewi fortuna berupa ijazah untuk melamar pekerjaan dengan gaji menggiurkan.

Apatis terhadap masalah sosial-kemasyarakatan yang menjadikan anak didik tak memiliki etik-publik sekaligus etik-politik.

Keadaan sekolah justru menjadikan pemahaman individualisme kian kokoh tak tergoyahkan.

Padahal, kondisi seperti ini telah dihabisi dan dihujat habis-habisan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita.

“Pengajaran yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial hanya untuk dapat menjadi “buruh” karena memiliki “Ijazah”, tidak untuk isi pendidikannya dan mencari pengetahuan guna kemajuan jiwa-raga.

Pengajaran yang berjiwa kolonial itu akan membawa kita selalu tergantung kepada bangsa Barat.

Keadaan ini tidak akan lenyap hanya dilawan dengan pergerakan politik saja.

Perlu diutamakan penyebaran hidup merdeka di kalangan rakyat kita dengan jalan pengajaran yang disertai pendidikan nasional” (1985:90).

Ajip Rosidi, seorang sastrawan kelahiran tanah Sunda “tak lulus” saat sekolah menengah.

Hal itu menjadi pilihan yang ia putuskan sendiri secara sadar, “Waktu itu banyak orang tua murid yang menyogok guru meluluskan muridnya dengan membeli bocoran soal. Itu jadi kasus besar sampai dimuat banyak Koran. Saya memutuskan keluar, tidak mau jadi lulusan dalam produk sekolah semacam itu” (Aulia Muhammad: 2003).

“Penyebaran hidup merdeka di kalangan rakyat” melalui pengajaran yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara rupanya juga tak terwujudkan.

Sekolah justru menjadi institusi paling tiran.

Betapa tidak, sekolah kini melalui kepentingan politis hanya membuat anak didik jadi patuh, tertib dan takut; untuk membebaskan rambutnya supaya merdeka saja, anak didik tidak berani, karena pengajar akan melarangnya.

Lantas bagaimana mau hidup mer deka sebab mau berbeda saja tak boleh?

Sekolah adalah proyek ideologis, membuat homogenisasi dan kepatuhan politis (Mawardi:2011).

Tak boleh malawan negara, tak boleh melawan kebijakan politik pemerintah dan mesti nurut!

Sekolah saat ini telah menyihir anak didik sepenuhnya penurut, tertib dan takut.

Mementingkan hal-hal permukaan dan formal belaka. Bersikap pragmatis dan apatis sepenuhnya.

Sekian!

~Kartosuro, 3 Januari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s