untitled

Memoar Luka Garuda Muda

Oleh Khoiron el-Ayyubi

Pertandingan harga diri yang masih tergiang di otak warga manusia Indonesia, Sea Games. Kesebelasan Indonesia mampu menembus sampai babak final.

Di pertandingan final itu, tragedi kekalahan terjadi ketika Ferdinand Sinaga gagal mengeksekusi pinalti ke gawang Malaysia.

Kenangan itu tidak hilang meski Indonesia terobati oleh penobatan dan prestasi sebagai juara umum Sea Games 2011.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan salah satu mahasiswa IAIN Surakarata Priyadi bahwa “Indonesia bukan hanya sepak bola, Indonesia bukan hanya Tibo ataupun Okto maniani”.

Dengan jelas hal itu bertolak belakang dengan apa yang ada di bumi Indonesia.

Rasa tidak puas keluar dari hati separuh masyarakat atas kekalahan Indonesia.

“Sakit hati”, Satu frasa kata ini memunculkan beribu cemooh kepada pelatih dan para punggawanya.

Beberapa jam setelah selesainya drama penalti, muncul beberapa argumen dari beberapa pengamat sepak bola angkringan (masyarakat dari segala sosial).

Keluhan tentang poin – poin penyebab Garuda Muda kalah bermain sepak bola dengan Harimau.

Ada yang beranggapan bahwa kekalahan Indonesia karena kesalahan strategi pelatih, ada juga yang beranggapan bahwa kekalahan Indonesia karena lapangan yang kurang mendukung, dan ada salah satu argumen yang menggelitik otak saya; keluar dari salah satu pengamat sepak bola kampung, bahwa kekalahan Indonesia karena belum adanya mental.

Argumen tentang mentalitas pemain terlihat lebih lucu atau tidak masuk akal.

Indonesia telah bermain di kandangnya sendiri dan disaksikan lebih dari 1000 pendukungnya.

Sebuah pertanyaan; mengapa harus mental yang disalahkan?

Ironi, karena Indonesia patut lebih berkobar semangatnya dibanding Malaysia.

Setelah saya melihat kembali, mentalitas ini bukan mental memasukan bola ke gawang lawan yang dimaksudkanya, tapi mental memasukan lambang Garuda dan Merah Putih yang belum tertera di hati mereka.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan salah satu dosen IAIN Surakarta, direktur pasca sarjana, Prof. H. Rohmat bahwa sebelum mengeksekusi penalti tidak ada lambang garuda ataupun merah putih di hati mereka.

Lambang dominan adalah gambar uang berapa jutalah yang akan mereka dapat setelah berhasil memasukkan bola itu ke gawang.

Hal ini bukan berarti sebuah argumen pemojokan pada beberapa pahlawan yang telah berusaha mengibarkan sang Merah Putih di Gelora Bung Karno.

Bagi saya, hal ini bukan argumen yang tanpa alasan. Sebuah alasan kuat menurut saya adalah dua hari sebelum final.

Pada salah satu saluran televisi menyiarkan beberapa kegegeran tentang berapa bonus yang akan didapatkan salah seorang pemain yang bisa memasukan bola ke gawang lawan.

Inilah pembuktikan bahwa belum munculnya semangat Garuda Muda untuk membiarkan sang Garuda terbang ke langit Asia, tapi semangat untuk menerbangkan berapa juta uang yang akan terbang ke kantong mereka muncul di benak para pahlawan itu.

Hilangnya penghayatan pada simbol-simbol nasional menjadi sebuah keambiguan.

Pada faktanya, mereka juga pernah mendapatkan pelajaran Pancasila saat Sekolah Dasar.

Mereka pernah diajarkan bagaimana memperjuangkan bangsa dan negara.

Hal ini tidak muncul ketika mereka terpilih menjadi seorang pahlawan negara.

Saya berpendapat bahwa mental tersebut hadir karena kehadiran poster di jalan-jalan raya. Tidak hanya di kawasan jalan raya, mental seperti itu hadir karena beberapa iklan TV yang setiap hari memamerkan rupiah.

Dalam salah satu buku psikologi pendidikan karya Dr. Joko Sutrisno menyebutkan bahwa mental seseorang berasal dari apa yang dia lihat.

Dari yang dia lihat itulah kemudian terjadi simulasi dari penglihatan di otak.

Hal itu akan diolah di otak dan akan direspon oleh hati lalu menjadi sebuah mental pribadi seseorang dan kemungkinan besar akan dilaksanakan mental tersebut pada tingkah laku seseorang.

Dari argumen inilah saya berpendapat bahwa mental para pejuang untuk memperjuangkan merah putih itu sudah runtuh karena mereka setiap hari mendapatkan sarapan iklan-iklan dan poster-poster yang memamerkan beberapa puluh juta uang yang mereka lihat di jalan atau dari TV mereka.

Mentalitas iklan ini tidak hanya terjadi pada aktor-aktor Garuda Muda, namun juga pada penonton atau suporter.

Mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan pertandingan final.

Ini sungguh ironi, dimana rasa Nasionalitas terhadap Indonesia hanya sampai pada euforia publik.

Coba kita sedikit melihat negara Harimau Asia, Malaysia.

Dari salah satu TKW Indonesia, Tri Wahyuni, warga Sragen yang bekerja di Malaysia mengatakan bahwa setiap sudut kota tidak ada poster nominalitas di sisi-sisi jalan raya.

Beberapa tulisan tentang slogan akan kecintaan pada negara yang ada, seperti I love Malaysia; Hidup Malaysiaku.

Tulisan-tulisan itulah yang setiap hari mereka lihat dan hadir di benak mereka.

Dari sinilah pembentukan mental muncul karena tulisan-tulisan ini hadir setiap hari.

Dari sini, semangat akan Garuda Muda Indonesia menjadi juara piala AFF, Sea Games atau mungkin Piala Dunia 67 tahun yang akan datang bisa terpatri di sanubari jika dari sekarang poster-poster di jalan dan iklan di TV sudah tidak memamerkan rupiah lagi ke mata pahlawan Indonesia era baru.

Sebuah mentalitas bangsa hadir atas mentalitas masyarakatnya.

Apabila mentalitas masyarakat kita hanya hadir pada poster-poster atau layar kaca, lantas mentaliatas macam apa ini?

Sebagai salah satu bagian dari bangsa selayaknya pondasi akan diri kita pun tak hanya mental tempe sekelas selebriti ibu kota, yang ditanya masalah sosial hanya akan memberi jawaban-jawaban kamuflase.

Kita inilah yang akan membentuk mentalitas bangsa dan bumi pertiwi.

Kita bangga akan bangsa kita sendiri.

~Tangkil, 3 Januari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s