capture

Malam Basah

Oleh Fitria Kusuma Wardani

Sebenarnya dia amat benci dengan malam dan semua antek-anteknya.

Bulan, bintang, angin, suara binatang malam, tidur, dongeng sebelum tidur, domba-domba pengantar tidur dan mimpi.

Malam gelap, udara dingin dan suara binatang malam semakin membuatnya gusar.

Setiap matahari mulai mendekati singgasananya, wajah si pemulung itu mulai gelisah.

Tatapan matanya tajam seolah menantang lawan di medan perang.

Gerak tubuhnya tak terkendali.

Apa yang ada di dekatnya pasti menjadi sasaran amarahnya.

“Pasti ada sesuatu dengan pemulung malang itu.” Kata seorang karyawan toko di ujung jalan.

“Ya, aneh sekali dia, sejak dia kembali dari gunung itu.” Sahut karyawan lain.

Tetapi, malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya.

Malam ini bulan tertutup rapat oleh mendung, tak ada udara yang bergerak, tak ada suara binatang malam dan pemulung malang itu sangat berharap tak ada tidur, apalagi mimpi.

Malam statis, seperti tak ada kehidupan.

Mungkin malam ini malam milik penyihir-penyihir bertopi lancip.

Di malam itu, si pemulung duduk di sebuah teras toko yang sudah tutup.

Dia menyandarkan punggungnya pada pintu besi dan mendekap erat kedua kakinya.

Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil.

Air matanya mengalir membelah pipinya.

Membentuk sungai kecil yang gemercik airnya sangat keras.

“Kenapa, kau?” Tanya lelaki yang sengaja mendatanginya.

Namun si pemulung hanya diam.

Tak mengubah posisi duduk maupun raut wajah.

Semakin lama semakin deras gemericik sungai air mata yang membelah pipinya.

Tatapan matanya kosong tak tertuju, hanya lurus ke horison tak terbatas.

“Hay, ada apa denganmu?” Tanya lelaki itu mengulangi.

Setelah dua kali lelaki itu bertanya, barulah si pemulung mau menjawab dengan suara yang lirih.

“Dua minggu lalu aku bermimpi.” Jawab si pemulung.

“Apakah itu mimpi buruk?”

“Bukan, itu mimpi yang baik. Mimpi itu menunjukkan dimana aku akan mendapatkan semua yang aku mau, harta, kebahagiaan dan seorang anak.”

“Jika itu mimpi yang baik, kenapa kau menangis setiap malam?”

Si pemulung terdiam lagi.

Kedua bola matanya mencari dimana bulan dan bintang malam ini.

Nafasnya tersengal-sengal.

Keringat dan air matanya mulai kering karena hembusan sedikit angin.

Setelah tenang, si pemulung mulai menjawab.

“Pagi itu, aku bercerita tentang mimpiku semalam kepada istriku. Dia sangat bersemangat ketika mendengar ceritaku. Dia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak di antara kami. Namun, sudah lima belas tahun menikah kami belum dikaruniai seorang anak.”

Si pemulung berhenti bercerita sejenak untuk menghela nafas.

“Setelah aku selesai bercerita, istriku mengajakku mengunjungi tempat itu.

Dua hari kemudian kami berangkat.

Sebelum fajar kami telah meninggalkan rumah.

Jalanan masih sepi.

Hanya ada beberapa tukang sayur yang berangkat menjajakan barang dagangannya ke pasar.

Karena kami tidak mempunyai cukup uang, maka kami hanya bisa berjalan menyusuri jalanan berkelok, di tengah hutan yang sepi.

Di dalam tas kami hanya ada tiga buah singkong rebus untuk makan siang.

Tiga jam kami berjalan.

Bertemulah kami dengan hutan yang masih perawan.

Gelap, sunyi dan tak ada tanda-tanda kehidupan.

Awalnya aku ragu untuk menelusup ke dalam hutan.

Tapi, istriku merengek minta masuk hutan itu.

Ya, maklumlah, istriku sangat mendambakan kehadiran seorang anak di antara kami.

Dengan hati yang berdebar kami masuk ke dalam hutan.

Banyak sekali suara binatang liar.

Kami berjalan tanpa arah.

Dan setelah beberapa saat kami berjalan ke dalam hutan, tepat di depan istriku berdiri seekor harimau besar.

Kami sempat berlari berbalik arah.

Namun, harimau itu mengejar kami.

Sekuat tenaga kami berlari, tapi tenaga kami tak sehebat tenaga harimau.”

Si pemulung berhenti bercerita.

Air matanya mulai membelah pipinya.

Wajahnya memerah.

Tubuhnya lunglai.

Beberapa kali dia mengusap air matanya dengan kaos compang-camping yang telah tiga hari ini melekat di tubuhnya.

Udara malam mulai dingin.

Menambah miris pemandangan di sudut kota itu.

Gerimis pun mulai datang.

Bau tanah basah ikut campur dalam perbincangan pemulung dan lelaki itu.

Tapi, tak apalah, sebenarnya bau tanah basah memberikan setitik ketenangan dalam hati.

“Tolong, lanjutkan ceritamu, aku ingin sekali mendengarkan ceritamu!” Pinta lelaki yang mesih duduk di samping pemulung.

“Sebenarnya aku sangat berat untuk mengingat peristiwa ini. Tapi, tak apalah.”

Setelah menghela nafas, si pemulung kembali bercerita,“istriku diterkam harimau.

Sekejap darahnya mengubah warna tanah menjadi merah. Harimau itu melumat istriku dengan lezatnya.

Aku tak sanggup melihat peristiwa itu. Aku berlari menuju jalan raya dengan wajah memerah dan frekuensi nafas yang tak lagi harmonis.

Aku tak dapat melindungi istriku sendiri.

Aku lelaki tak berguna.

Lelaki lemah.

Dan kini aku sangat menyesal.

Tidak mendapatkan seorang anak, tapi malah kehilangan seorang istri yang paling aku cintai.

Setiap matahari mendekati peraduannya, aku mulai teringat semua peristiwa itu.

Alam telah merebut semua yang telah aku miliki.

Aku sempat berpikir, mungkin alam marah kepadaku.

Aku sering tak peduli kepada makhluk, tak pernah bercumbu dengan bintang, apalagi merayu bulan untuk tetap tersenyum di malam gelap.

Dan mungkin binatang-binatang kecil yang hidup di bawah kakiku menjerit kesakitan saat aku injak mereka, tapi aku tak peduli sama sekali dengan mereka.

Sungguh, aku telah berdosa kepada jagad raya.

Maka, mereka mengambil istriku sebagai balasannya.” Dengan mata yang berkaca-kaca si pemulung malang itu mengakhiri ceritanya.

“Terima kasih, engkau telah berbagi cerita yang luar biasa kepadaku.” Kata lelaki.

Dengan berakhirnya cerita itu angin malam mulai mesra lagi.

Bunga sedap malam menebarkan aroma romantisnya.

Rembulan melirik malu dari balik jendela mendung.

Dan mata sang bintang mulai cemerlang.

Terpejamlah kedua mata pemulung itu.

Punggungnya bersandar di sebuah pintu besi.

Wajahnya tampak lebih lega.

~Simo, 3 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s