capture

Suamiku

Oleh Iva Yusdiana

Saat senja, suamiku selalu pulang ke rumah; menemuiku beserta kedua buah hati kami, Kantona dan Sakti.

Keduanya ku lahirkan secara sesar.

Dalam hidup, aku hanya mencintai empat lelaki: ayah, suami dan kedua anakku.

Bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang sakral.

Hujan  bisa saja sirna, namun cinta yang tulus akan menjadi prasasti.

Pagi menjelang siang, 10 januari 2007, aku telah mengikat janji sehidup semati dengan suamiku.

Kuniatkan diriku menjadi istri, apapun keadaan suamiku: kekurangan dan kelebihannya.

Sebelumnya aku berprofesi sebagai pengajar di salah satu SMP swasta di kotaku.

Sebelum aku mengikat janji sehidup semati, mau tidak mau aku harus meninggalkan pekerjaanku serta orang tuaku; membina rumah-tangga di Solo.

Setelah satu setengah tahun pernikahan kami berjalan, munculah buah hati kami yang pertama, kami sangat bahagia.

Kantona, sebuah nama yang telah kami sepakati untuk bayi kami nanti ketika sudah lahir.

Namun, aku merasa gagal menjadi ibu, karena melahirkan buah hatiku dengan sesar.

Ibu mertuaku pernah bilang; jalan utama menjadi seorang ibu yang berhasil adalah melahirkan anaknya dengan normal dari rahimnya tanpa operasi.

Di saat aku merasa gagal, suamiku tercinta selalu berkata, “kita akan tetap bahagia.

Rumah akan ramai dengan suara tangisan atau senyuman anak kita nanti.

Kau tetap ibu yang berhasil melahirkan buah hati kita.”

Rumah kami yang biasanya hanya mendengarkan serta menyaksikan obrolan kemesraan kami, sekarang sudah berbeda karena sudah ada Kantona, yang meramaikan rumah ini.

Saat Kantona berusia satu tahun, tiba-tiba ada janin yang muncul lagi dirahimku.

Kami putuskan untuk periksa ke bidan dan aku dinyatakan positif hamil.

Kembali aku melahirkan anak kedua kami dengan sesar.

Nama Sakti kami berikan kepada buah hati kami yang kedua.

Kembali lagi ibu mertuaku berkata bahwa ibu yang berhasil ialah mereka yang mampu melahirkan buah hatinya tanpa operasi.

Meski demikian, suamiku tetap setia menemaniku dan berkata, “jangan hiraukan kata-kata itu!”

***

Rumah sangat ramai ketika kami berempat telah berkumpul.

Ketika kami benar-benar sudah merasa sempurna, ekonomi keluarga kami menurun.

Hotel tempat suamiku bekerja sudah tidak bisa menggaji seluruh karyawannya.

Sempat down ketika suamiku pulang kerja dan menceritakannya padaku ketika anak-anak sudah lelap.

***

Saat ini hanya aku yang bekerja dan bertukar pekerjaan, bertukar peran dengan suamiku.

Seluruh isi rumah beserta anak, suamiku yang mengurusnya.

Kini aku kemali mengajar di salah satu SD swasta di Solo.

Setelah mondar-mandir melamar pekerjaan kesana-kemari, tepat dimana suamiku sudah tidak lagi bekerja, aku diterima di SD itu.

Tuhan memang begitu adil mengatur skenario hidup ini.

Suamiku setiap hari tetap mondar-mandir mencari pekerjaan.

Kadang jika tubuh ini merasa lemah, letih, lesu, sempat ku marahi suamiku.

Namun dia tetap membisu dan tak satu katapun keluar dari mulut indahnya, karena dia merasa tidak bisa menghasilkan uang.

Aku sudah tidak penah lagi menyetrika, mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu dan mengepel.

Aku sudah tidak pernah menyentuh itu semua.

Hanya memasaklah masih aku lakukan.

Setiap pulang kerja, pekerjaan rumah sudah beres semua.

Setelah setahun menjadi pengangguran, Universitas Sebelas Maret membuka lowongan dosen pariwisata dan itu sangat tepat bagi suamiku.

Suamiku hanya lulusan diploma.

Sempat dia ragu, namun aku memaksanya untuk ikut berkompetisi, mendaftar menjadi pengajar di sana.

Setelah semua persyaratan mendaftar sudah dikirim, seminggu kemudian pengumuman menyatakan bahwa suamiku diterima di sana menjadi pengajar di sana.

Sebuah keajaiban telah datang pada keluarga kami.

Suamiku hebat, mengalahkan semua alumni pascasarjana, sementara ia hanya lulusan diploma.

Kebahagiaan kembali datang pada kami.

Semua kehidupan kembali berjalan lancar seperti waktu kami mengikat perjanjian sehidup semati pertama kali.

Memang cinta itu seperti air, sangat dibutuhkan dimana saja.

Namun kebanyakan manusia banyak yang tidak menghargainya.

Aku sadar setelah suamiku diterima sebagai pengajar di Universitas Sebelas Maret.

Aku sering tidak menghargainya sebagai suami.

Hanya karena aku berperan sebagai orang yang mencari nafkah dalam keluarga.

***

Adik suamiku telepon bahwa di Kudus ada lowongan pekerjaan di Bank dan honor perbulan lebih besar dari tenaga dosen.

Malam itu ketika semua bintang menjadi saksi, dia berkata padaku bahwa dia ingin sekali mencoba melamar di Bank sebagaimana dikabarkan oleh adiknya.

Aku hanya menjawab “Jika itu yang terbaik buat keluarga ini dari Tuhan, aku setuju”.

“Kamu rela kita LDR, dek?”

“Aku ikhlas. Coba melamar dulu mas, jika diterima itulah yang terbaik dari Tuhan untuk keluarga,” jawabku.

Suamiku akhirnya melamar pekerjaan itu, seminggu tepat setelah melamar, telepon dari Bank mengabarkan suamiku diterima dan bisa mulai bekerja minggu depan.

Hatiku sebenarnya tidak kuat untuk membimbing kedua anakku hanya seorang diri, tanpa ada suami di rumah.

***

Suamiku berangkat dengan membawa beberapa pakaian yang telah aku tata rapi di dalam sebuah koper merah.

Dengan titik air mata, aku telah memilih dan menata pakaian dalam koper yang akan dibawanya.

Saat itu dia sedang mandi.

Kantona dan Sakti menangis ketika suamiku hendak pergi dibawa oleh sebuah mobil merah.

Aku mencoba bermuka tegar dan membujuk anakku untuk tidak menangis di depan rumah kami.

Suamiku berpamitan denganku dan mengecup kening dengan titikan air mata yang keluar dari matanya.

Sementara Kantona dan Sakti telah dia peluk erat dengan perasaan tidak sanggup meninggalkan rumah.

Perpisahan ini hanya untuk meningkatkan segala sesuatu yang ada dalam keluarga.

Aku yang berdiri di belakangnya hanya melihat dengan perasaan campur aduk.

Tiba-tiba suamiku melangkah ke belakang bersama kedua anak kami dan memeluk erat kami semua.

Tangisan Kantona dan Saktipun semakin mengerang.

***

Sehari menjalani kehidupan tanpanya adalah mati buatku.

Meski demikian, aku harus membimbing Kantona dan Sakti.

Aku harus bisa menjadi ibu yang serbaguna.

Pagi-pagi buta, segala pekerjaan rumah: menyapu, memasak, aku lakukan sendiri sekarang.

Tidak ada yang memanjakanku lagi.

Kulakukan pekerjaan itu dengan rasa yang tidak karuan karena sudah lama aku tidak pernah melakukan pekerjaan itu.

***

Malam tiba dan aku berhasil menidurkan Kantona dan Sakti.

Beberapa panggilan dari suamiku tak kujawab, sebab aku sedang menidurkan anak-anak.

Kutelepon balik suamiku saat anak-anak sudah lelap.

“Gimana dengan hari ini? Kerjaanku begitu lancar meski baru pertama kali masuk,” sapa suamiku dalam telepon.

Aku menikkan air mata dan ku jawab, “Aku sedikit kelelahan karena harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.

Aku butuh pembantu dan tugasku hanya membimbing Kantona dan Sakti serta mengajar dan memasak,” pintaku pada suami.

“Kalau begitu besok kamu nyari pembantu aja yang bersedia nginep di rumah kita.

Aku, dua minggu sekali akan pulang menemuimu dan anak-anak.” Saran suamiku.

“Iya. Akan kuusahakan dan kutunggu selalu kepulanganmu,” jawabku.

Kami mengobrol panjang lebar dan tidak sadar jam telah menunjukkan pukul 12 malam.

Kami mengakhiri telepon dan sepakat untuk tidur.

Aku hanya memandang wajah kedua anakku dan kupeluk guling saat hendak menutup mata, untuk menyambut datangnya mentari.

Serasa ada yang hilang dalam hidup ini.

Namun inilah takdir Tuhan untuk kehidupan rumah tanggaku dan latihan membuat rumah tangga yang sempurna, karena cobaan ini menandakan aku adalah istri yang kuat serta hebat.

Selamanya aku akan terus mencintai suamiku, aku selalu menunggu di rumah, beserta kedua anakku untuk kepulangannya ke rumah.

Love will find a way, karena anak-anakku membutuhkan kasih sayang seorang ayah.

Like father, like children. So man proposes, God dispossess.

~Jepara, 3 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s