capture

Naskah; Ruh Pementasan

Oleh Rifqi Hanif Barezzi

Telanjang Bersama Merayakan Sandiwara Bukan pura-pura”.

Semboyan ini tak pernah hilang di telinga para aktor-aktor Teater Sirat, yang kesekian kalinya mengadakan pementasan sebagai bentuk ritual pengabdian sekaligus penghormatan terhadap karya-karya sastra yang tertulis dalam naskah dan diwujudkan dalam pementasan atau sering kita kenal dengan pentas produksi.

Para anggota Teater Sirat angkatan 2011 diwajibkan untuk melakoni pementasan perdana.

Hal ini berlaku sebagai agenda rutin setelah mereka mengikuti LADA (latian dasar) yang diadakan di setiap tahunnya.

Pentas produksi ini terlaksana dua malam berturut-turut.

Pada malam pertama, sutradara Khoiron Al-Ayubi mengusung naskah dengan judul “Padang Bulan” karya Ucok Klasta.

Naskah ini bercerita tentang kisah modernisasi di era globalisasi yang semakin lama semakin mengubur hidup-hidup budaya tradisional dalam masyarakat, seperti permainan atau dolanan anak-anak jaman dahulu.

Dalam naskah tersebut banyak hal yang bisa dijadikan sindiran atau semacam sentilan terhadap keberadaan modernisasi dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Banyak anak-anak yang lupa atau bahkan sama sekali tidak mengenal budaya asli masyarakat kita.

Seperti halnya permainan “Playstation” dan jejaring sosial “Facebook atau Tweeter” kini semakin merajalela.

Dengan kedatangan tiga hal tersebut, diceritakan dalam naskah ini, seolah-olah telah merenggut dolanan anak-anak.

Pementasan pada malam kedua, dengan sutradara Rifqi Hanif Barezzi memainkan naskah yang berjudul “Kotak Surat Terakhir” karya Mohammad Anshori.

Naskah yang pernah menjuarai Harapan I dalam lomba penulisan naskah drama remaja Dewan Kesenian JATIM 2008 ini, bercerita tentang sepenggal lika-liku kehidupan sebuah keluarga.

Seorang ayah yang memiliki jiwa seni, yang memperlihatkan karya terbarunya, yaitu kotak surat, yang memang tidak jauh beda dengan kotak surat pada umumnya.

Tapi kotak surat ini terbuat dari bahan yang luar biasa, yaitu dari bahan metaloin delirium polyester, dimana dengan kotak surat tersebut sang ayah sedikit memberikan pelajaran tentang kerja sama kepada anak-anaknya, karena ketiga anaknya selalu ribut dengan urusannya masing-masing.

Akhirnya sang ayah memberi ancaman dengan menulis surat terakhir kepada anak-anaknya agar pulang ke rumah untuk memberi kejutan kepada istri tercintanya yang akan berulang tahun.

Rencana surat terakhir tersebut akhirnya membuahkan hasil dan ketiga anak (Santi, Yuni, Rini) pulang ke rumah.

Menurut penulis yang beberapa bulan lalu terpilih menjadi lurah Teater Sirat ini beranggapan bahwa kedua pementasan tersebut merupakan titik awal kebangkitan dari proses pementasan.

Akhir-akhir ini, Teater Sirat seolah sudah melupakan naskah dan sering mempermainkan pementasan yang hanya mengandalkan improvisasi tanpa menggunakan naskah.

Seperti pada pementasan RUSUN (Rumah Susun) yang sudah sampai jilid 4. Adakalanya pementasan seperti ini memang dibutuhkan untuk melatih kepekaan pemain dalam improvisasi.

Akan tetapi jika ini berkelanjutan, dalam hemat penulis, pemain akan semakin melupakan naskah, dengan kata lain melupakan pakem pementasan.

Pementasan dengan menggunakan naskah akan menuntut pemain agar bisa lebih peka dalam membaca dan memahami.

Semakin banyak naskah yang dibaca semakin banyak pula referensi yang akan diterima.

Dengan naskah, pemain juga diajak untuk berimajinasi terhadap apa yang akan dilakukan, bagaimana cara mengekspresikan naskah tersebut dalam bentuk acting.

Sehingga, pemain akan merasakan seolah dirinya masuk ke dalam naskah tersebut.

Inilah yang penulis sebut sebagai sebuah keunggulan dan kekuatan dari naskah.

Sanggar Teater Sirat memiliki puluhan naskah yang belum tersentuh.

Apakah naskah tersebut hanya akan menjadi sebuah dokumen saja?

Atau bahkan hanya sekedar file-file yang semakin lama habis dimakan rayap bila tidak disentuh sama sekali?

Sebenarya ini hanya sekedar kritikan kecil terhadap rasa cinta penulis pada naskah.

Naskah akan mengajari kita membaca.

Naskah akan mengajari kita menghafal.

Naskah akan mengajari kita berimajinasi.

Naskah akan mengajari kita berekspresi.

Semua ini akan kita dapatkan dalam sebuah naskah.

Harapan itu muncul ketika kedua naskah yang berjudul “Padang Bulan” dan “Kotak Surat Terakhir” dipentaskan.

Dengan kedua pementasan ini semoga menjadi tolok ukur terhadap naskah lainnya, menjadi pemacu kepada yang lainnya untuk lebih senang dan sering menggarap naskah dalam wujud pementasan.

Akhirnya penulis dengan bangga mengucapkan selamat dan sukses kepada Teater Sirat atas terselenggaranya kedua pementasan tersebut.

Tentunya masih ditunggu pementasan-pementasan yang selanjutnya.

Salam Budaya

~Ngruki, 3 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s