capture

Muara Jalan

Oleh Momo Afinawan

Masih ingat dengan wajah jalan di waktu lampau?

Saat jalan masih polos dan menggemaskan.

Ia menghempaskan harga dirinya demi menggandeng siapa saja tanpa beda, mengenakan baju seadanya, bernyanyi bahagia semata karena membawa cangkul dan teko sebagai bekal memanjatkan doa.

Jalan mengisahkan kemesraan tetangga; tawa renyah dalam sapa; membuat sapu lidi makin akrab dengan daun kering.

Itulah semata kenangan tentang jalan yang kini makin keriput.

Syahdan, jalan tertatih, merangkak, lalu lambat laun menukik tajam, terjal dan mengancam.

Saat doa kakek mengiring jalan ke kota-kota, jalan lebih percaya diri menggantungkan dasi melekat di leher daripada mengenakan serban dan blangkon.

Menyusuri jalan rasanya tak lengkap tanpa koper dan ransel; sedang cangkul dan caping hanya jadi lambang di tugu selamat datang.

Tak ada peluh pun bau keringat, namun jalan kini penuh dengan aroma wangi pelacur.

Ketika nyenyak embun pagi, jalan telah berpacu pada tiap detik, menghantam keras beragam warna jasad tanpa perasaan.

Berlaku abadi, sampai burung hantu pun ikut berteriak kesetanan.

Jalan tetap berdiri tegak, tanpa tidur, tanpa isapan jempol.

Lihatlah aku!

Kala tangga nada aku mainkan, jalan menjadi manja tak mau ikut serta.

Alunan indah telah di obrak-abrik, menyisakan satu dua nada, namun jalan makin sumbang berdendang dalam genderang kegelisahan.

Jalan pun tak lagi mengadu pada ibu setelah aku lupa akan jatidiriku, setelah aku tak berpulang, setelah aku tak lagi membaur dengan tanah.

Aku marah sebab jalan yang lalu telah binasa.

Kerakusan jalan merobohkanku.

Jalan memperkosaku lantas memakan seluk-beluk kisahku.

Tak ada lagi ketapel, kaleng, ataupun mimpi.

Para pengitar jalan mulai berbondong memuntahkan isi perut bumi melalui proyek, proyek, dan proyek.

Aku adalah jabang yang bersemayam dalam rahim sunyi seorang ibu yang congkak akan kecongkaan.

Ayah menggelar sajadah menjaring ijabah; jalan menjadi angan dalam harapan pertama, tatkala aku berpijak.

Namun kini jalan menjadi congkak, dimana lecet di kaki meluapkan air mata.

“Tumbuh dewasalah jalan, mengadopsi cerita-cerita pujangga! Rintihan nan sempoyongan tertulis atas nama presisi, merantau ke semenjana, jalan tak ingin berpulang,” Teriak ibuku lantang, melambai padaku dari kejauhan.

Kejayaan telah terdapati, jalan menatap harta duniawi.

Kereta bayi semakin jauh tak tergapai, menggantikan buaian ibu.

Jalan tak lagi berpijak, ia kini telah beroda.

~Jogonalan, 3 April 2012