cropped-logo-teater-sirat.jpg

Selamat Datang di Teater Sirat

mesin-tik

Pembaca bertakwa, apa yang anda gelisahkan?

Orang menulis disebabkan ia gelisah, karena segala bentuk kegelisahan yang diserap oleh indra, harus mengalami pembuangan. Jika tidak, bisa jadi orang yang tidak menulis akan collapse. Maka, menulis dapat menjadi sarana pembuangan kegelisahan.

Hanya, jika seseorang menulis terlalu emosional dan tidak diimbangi oleh hal-hal empirik, ia terkesan tidak menerima keadaan yang tengah dijalaninya, dan yang terjadi, tulisannya hanya dapat menghias atau sekedar meramaikan dinding-dinding media sosial tanpa orang lain bisa memetik pelajaran darinya.

Akan lebih bijak jika ia menulis keluh kesahnya dalam buku catatan harian daripada membuangnya di dinding media sosial.

Mengapa demikian? Pertama tulisan tersebut dapat menjadi karya; kedua, ia dapat mengasah pola berpikir jernih berasaskan gelisah kemaslahatan.

Collapse, sebagaimana disebutkan sebelumnya merupakan perilaku-perilaku tidak wajar, seperti: merenung tanpa berpikir, berbicara ngelantur, imaji tanpa intuisi, dan fatwa tanpa tabayyun.

Dampak dari itu ialah kerusakan lingkungan, karena hakikatnya, rasionalitas collapse dibangun atas paradigma kebencian, politik, dan rasa ingin memiliki hak orang lain (invasi).            

Padahal, invasi yang dilancarkan pada sebuah entitas, hanya menjadikan orang yang tidak tahu tentang pokok permasalahan menjadi bulan-bulanan ego politis individual.

Sebagai contoh perang saudara, hanya karena masalah politik beberapa individu, latar peperangan dapat menyeret pelbagai elemen dalam penderitaan dan air mata.

Kembali lagi manusia harus berpikir jernih; melihat kembali buku harian, dimana segala keluh-kesah pernah dicatat di dalamnya.

Dari tulisan yang pernah manusia catat, setidaknya ia dapat menemukan koreksi—minimal koreksi kepenulisan.

Bisa dilihat pada dinding-dinding media sosial dewasa ini. Seorang A mencemooh perihal sesuatu, dan seorang B membalas cemooh si A dengan puluhan argumentasi ilmiah.

Tak mau kalah dengan balasan komentar si B, si A menghadirkan ribuan argumentasi ilmiah lain yang lebih empirik dan reliabel.

Perlu diingat, bahwa dalam hal ini telah terjadi kemubaziran.

Jika si A dan si B merupakan mahasiswa, alangkah baiknya jika bahan-bahan yang mereka argumentasikan ditulis pada rangkaian karya ilmiah, sehingga mampu menghantarkan mereka meraih grade yang lebih bagus pada bidang akademik.

Namun jika si A dan si B bukan bagian dari akademisi, akan menjadi kasihan karena serapah yang dilontarkan hanya bernilai picisan tak bernilai.

Pernahkah pembaca bertakwa menyadari bahwa ribuan hipnotis drama-drama Asia hanya berasal dari catatan-catatan harian, yang banyak membuat ibu-ibu PKK menjadi termehek-mehek.

Dampak termehek-mehek ini ternyata sudah dirumuskan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, dimana nilai-nilai akademis seyogyanya dibangun di atas pengabdian kepada masyarakat.

Sudah bisa membayangkan dampak fieldnote yang ditulis oleh mahasiswa KKN dalam mengkonstruksi budaya masyarakat setempat?

Ingat, keutamaan pendapat, pandangan, dan opini terletak pada nilai empirik yang seyogyanya dibangun melalui diary, buku harian, fieldnote, catatan lapangan, atau apa pun itu namanya.

Dalam hal ini, saya hanya ingin mengajak pembaca bertakwa, mari menulis.

Advertisements