capture

Jane Eyre; Romantisme Pendidikan Peradaban

Oleh Nimas Dara Bertha W

Afrizal Malna, pemilik ikatan yang menyebut diri mereka sebagai masyarakat rasa pernah berkata, “dunia mengecil dalam rasa”.

Di dalam kisah buku yang akan dipaparkan oleh penulis kali ini, lahir sebuah kutipan “dunia mengecil dalam sastra”.

Kata-kata dalam kutipan-kutipan itu membagi dan melahirkan sebuah ideologi publik, dimana Afrizal dan mereka yang sepaham dengannya dipetakkan sebagai manusia melankolis.

Sastra sendiri terpetak di dalam dunianya sendiri.

Pemetakan ini membawa fiksi terutama sastra genre romantis yang nadir tersentuh permasalahan publik.

Mungkin permasalahan budaya masih dapat disentuh namun tidak dalam bidang ekonomi, pendidikan atau politik.

Novel, cerpen, puisi atau esai berbau fiktif romantis rata-rata dihadirkan sebatas media pelipur lara atau konduktor masa rehat.

Fiktif kehidupan acapkali menjadi sebutan yang sering disandingkan dengan romantisme sastra.

Sebuah karya satrawan asal Britania, Charlotte Bront, Jane Eyre mencerminkan apa yang Malna dan penggemar fiktif romantis rasakan.

Sebuah karya yang telah menjadi pendobrak karir Bronte menjadi penulis signifikan abad ke 19.

Bronte membawakan angin baru bagi kesusasteraan Inggris pada periode Romanticism.

Bronte mencoba realis akan kehidupan sosial masyarakat di jamannya.

Karya-karyanya mungkin tidak setragis Milton, Pope atau Shakespeare.

Namun, diksi Bronte lebih lugas, spontan dan bebas.

Jane Eyre sendiri berkisah tentang anak yatim piatu yang dianggap iblis oleh bibi yang mengasuhnya, Nyonya Reed.

Tokoh Jane sering menjadi kambing hitam dalam keluarga Reed.

Ia diaggap sebagai onak dalam daging.

Rasa dendam akan masa lalu orang tua Jane menyebabkan kebencian muncul dalam diri bibinya.

Ditambah dengan keliaran gaya berpikir Jane membuat Nyonya Reed tambah gusar.

Kesal dengan segala hal tentang Jane, sang bibi memutuskan untuk mengirimnya ke sekolah asrama, Lowood.

Alih-alih ingin mengasramakan Jane, sebenarnya ia ingin melihat kemenakannya mati oleh wabah penyakit yang tengah menjangkiti murid-murid di Lowood.

Banyak di antaranya meninggal karena wabah tersebut.

Tak dapat disangka, Jane masih dapat bertahan hingga berkarir menjadi salah satu guru di Lowood.

Tak lama setelah itu, Jane mendapat panggilan menjadi guru pribadi atau governess di kediaman Rochester.

Di sana, Jane banyak mengalami pergumulan rasa; dari cinta sampai patah hati.

Jane membentuk sebuah ideologi sikap diri setelah mengalami banyak konflik yang hadir dalam hidupnya.

Hal menarik dalam novel Jane Eyre adalah pendidikan.

Masalah ini jarang disentuh sebagai konflik utama dalam karya-karya fiksi.

Konflik pendidikan dalam novel ini sangat kentara sebagai cerminan masalah sosial pada masa itu.

Jane dikirim pada sekolah sebagai bentuk paksaan konstruksi sosial keluarga.

Pada abad 19, lembaga pendidikan merupakan simbol kemiskinan.

Orang ningrat tidak akan berkenan mengirim anak mereka ke lembaga pendidikan dan lebih memilih menghadirkan guru pribadi ke rumah.

Begitulah gambaran pendidikan di Britania kala itu, dimana pendidikan masih menjadi simbol perbedaan strata sosial, dimana juga orang miskin hanya mampu mengirim anaknya belajar dan mengenyam pendidikan pada sekolah-sekolah asrama.

Artinya, indikator miskin dan kaya seseorang dapat diukur dari tempat dimana ia mengenyam pendidikan.

Padahal, seyogyanya pendidikan hanyalah sarana yang mengajarkan seseorang untuk menjadi manusia yang lebih beradab.

Dalam novel ini, Bront ingin menekankan—pada cerminan tokoh Jane— bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan bagi manusia dalam membangun keberadaban.

Dalam karyanya ia bercerita bahwa suatu ketika ada sebuah pesta di rumah Rochester dan Jane diminta berpendapat tentang pengajaran pada anak.

Ia pun mengatakan bahwa seorang anak, baik terlahir dari keluarga ningrat ataupun tidak, pantas mendapat kesetaraan apapun, termasuk pendidikan.

Setiap diri manusia dengan segala akal pikirannya berhak mengolah, menggunakan, dan memproduksi karya dari akal pikiran yang dimilikinya.

Pernyataan ini pernah disebutkan oleh Socrates dan Plato dengan pandangan mereka yang mengatakan bahwa akal bisa melahirkan pengetahuan sejati dan prinsip moral, dan bahwa semua manusia bisa dipandu oleh pengetahuan serta bertindak rasional.

~Banyuanyar, 3 April 2012